Ini Yang Dilakukan Mahasiswa UIN STS Jambi ketika KKN Nusantara di NTT

Ini Yang Dilakukan Mahasiswa UIN STS Jambi ketika KKN Nusantara di NTT

HUMAS, Berita Online – 2 orang mahasiswa kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara UIN STS Jambi Ahmad Triono dan Fadila Natasa telah kembali dari masa pengabdiannya di Desa Pitay dan Desa Pandai Beringin, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, NTT.

Mereka telah melaksanakan masa pengabdiannya di salah satu desa yang ada di NTT ini berawal dari tanggal 10 Januari 2020 sampai dengan tanggal 14 Februari 2020

Tak luput setelah itu, hari ini senin (17/02/2020) mereka berkunjung keruang rektor untuk bertemu bapak Rektor UIN STS Jambi Prof. Dr. H. Su’aidi Asy’ari, MA, Ph.D untuk sedikit melaporkan dan menceritakan apa-apa saja yang telah mereka lakukan pada masa pengabdian dan memberikan oleh-oleh berupa kain tenun khas NTT kepada Bapak Rektor.

Dengan perbedaan tempat pengabdian desa dimasing-masing 2 orang mahasiswa UIN STS Jambi ini memberikan cerita dan hasil pengabdian yang berbeda pula

Ahmad Triono yang ditempatkan di Desa Pitay pada masa pengabdiannya lebih mengedepankan permasalahan SDM yang ada di desa tersebut, dengan melihat banyaknya sumber daya serai membuatnya untuk bisa lebih mengoptimalkan sumber daya ini dan muncul lah ide untuk membuat jus serai yang memiliki banyak khasiat bagi para pengkonsumsinya

Sesudah pengelompokan untuk pembuatan jus serai ahmad dan teman-teman pengabdian yang lain langsng membuat produk pertama bernama  “Jus Serai Pitay”. Produk ini Sudah dalam bentuk botolan dan langsung disuguhkan dihadapan pak gubernur pada acara ekspose di NTT dan juga membawa proposal untuk kemajuan SDM di Desa Pitay.

“Dengan adanya ide yang kami berikan ini, kami harap pemerintah setempat mau untuk mendukung usaha rakyat ini” Ucap Ahmad

Berbeda dengan ahmad, Fadila Natasa yang ditempakan di Desa Pandai Beringin pada masa pengabdiannya lebih mengutamakan kepada permasalahan pengolahan limbah yang tak terpakai yaitu limbah cangkang kepiting yang dicampur dengan limbah bongkol jagung yang akirnya bisa menjadi pakan ternak masyarakat disana

“kepiting yang dihasilkan sehari 200kg, dan 75% limbahnya dibuang cuma-Cuma” jelas Fadila

“selain kepiting kita juga mencapurnya dengan bongkol jagung yang merupakan limbah juga disana”  sambung fadila