MASIH ADA HARAPAN BESAR TEMAN-TEMANKU

MASIH ADA HARAPAN BESAR TEMAN-TEMANKU

Kita tidak bisa bayangkan kalau COVID-19 menjalar ke desa-desa di mana rumah sakit sangat terbatas dan biasanya rata-rata penduduk relatif tidak begitu suka dengan larangan-larangan sederhana seperti keluar rumah, terlepas dari sekecil apapun tingkat resiko menularnya COVID-19 ini karena rendahnya mobilitas orang.

Teman-temanku sekalian, DI BAWAH adalah terjemahan dari berita yang sangat menggembirakan kita, yang terbit di https://edition.cnn.com/2020/03/24/asia/coronavirus-wuhan-lockdown-lifted-intl-hnk/index.html
pada hari ini tanggal 25 Maret (waktu Indonesia). Dari berita tersebut hanya dalam beberapa waktu ke depan Cina akan mengakhiri masa lockdown di sejumlah kota negara tersebut, termasuk di Wuhan tempat titik nol COVID-19 ditemukan.

Sangat terlihat jelas bahwa disiplin dan taat pada aturan dan himbauan untuk tinggal/tetap di rumah adalah kata kuncinya. Tentu yang lainnya adalah secepat apa teman-teman kita para dokter membantu para pasien yang sudah terjangkit, serta sejauh mana pemerintah setempat secara serius dalam hitungan 24 jam sehari mengambil kebijakan yang cepat, tegas dan tepat.

Karena itu, saya menghimbau siapa saja yang membaca posting ini untuk bersama-sama meneruskan posting ini dan menghimbau siapa saja yang dapat kita akses melalui medsos yang kita punya untuk sementara mengurung diri di rumah secara suka rela, baik adanya kebijakan lockdown dari pemerintah pusat atau tidak.

Mentaati himbauan mengurung diri di rumah, berarti menyelamatkan diri sendiri, orang banyak, dan mengurangi beban serta telah berkerja sama dengan pemerintah kita.

Insya Allah dengan begitu Allah akan segera menyelamatkan semua kita dari wabah COVID-19 ini. Saya mencintai teman-teman semua dan saya harap kita bisa bertemu segera setelah COVID-19 di Indonesia ini berhenti menular. Kita segera dapat kembali beribadah dan berkerja secara normal dalam suasana nyaman dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga Allah melindungi kita semua dan semoga Dia memberikan kekuatan dalam pengertian apapun kepada siapa saja yang terlibat berjuang menolong saudara-saudara kita yang sedang memperjuangkan hidupnya dengan cobaan COVID-19 ini.

Semoga saudara-saudara yang anggota keluarga yang mereka cintai mendapat musibah ini dapat bersabar dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Wassalam
Suaidi Asyari
Rektor UIN Jambi

“China akan menghentikan pemberlakuan lockdown di Wuhan, Kota Pertama Penyebaran Coronavirus

Oleh Nectar Gan, CNN
March 25, 2020

(CNN) China telah mengumumkan akan mencabut pemberlakuan lockdown di Wuhan, kota pusat pandemi virus corona, pada 8 April mendatang. Hal ini sekaligus menandai peristiwa penting dalam pertarungan mereka melawan wabah mematikan tersebut.

Tanggal itu ditetapkan setelah kota tersebut ditutup bagi dunia luar selama lebih dari 2 bulan, dalam upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni untuk menahan penyebaran virus corona yang sangat cepat. Langkah-langkah pencabutan lockdown serupa juga akan diberlakukan di kota-kota lainnya di Provinsi Hubei, dimana Wuhan adalah ibu kotanya sebagaimana yang diumumkan oleh pihak berwenang pada hari selasa.

Pelonggaran pembatasan perjalanan seiring dengan pengurangan infeksi baru secara signifikan di Hubei, dimana kasus baru telah berkurang menjadi nol (nihil) selama lima hari berturut-turut sejak 19 Maret. Angka tersebut turun dari ribuan kasus setiap hari pada puncak epidemi pada bulan Februari.

Pada hari Selasa, provinsi tersebut melaporkan satu kasus baru di Wuhan, seorang dokter di Rumah Sakit Umum Hubei.

Wuhan adalah kota awal dimana sebagian besar penyebaran infeksi ini bermula dengan 67.801 kasus, yang juga mengakibatkan sebanyak 3.160 kematian di China, berdasarkan laporan pada hari Senin.

Sebagai kota yang telah lebih dahulu menerapakan pemberlakuan sistem tersebut, yang kemudian diikuti oleh kota-kota lainnya di seluruh dunia, Wuhan, memiliki jumlah populasi sekitar 11 juta jiwa. Kota ini ditetapkan di-lockdown pertama kali pada 23 Januari, dimana semua penerbangan, kereta api dan bus dibatalkan dan pintu masuk jalan raya diblokir. Selanjutnya, kota-kota lain di provinsi Hubei segera mengikuti dan mengadopsi pembatasan serupa.

Langkah-langkah besar tersebut, yang telah mempengaruhi lebih dari 60 juta penduduk Hubei, telah diberitakan di China, memungkinkan mereka mengatasi penyebaran wabah dengan cara yang berbeda.

Untuk menunjukkan keyakinannya bahwa Wuhan telah aman dari penyebaran virus, Presiden China Xi Jinping mengunjungi Kota tersebut pada 10 Maret, tiga bulan setelah wabah ini pertama kali terdeteksi di kota itu.

Namun walaupun pembatasan-pembatasan memperlambat penyebaran virus, mereka gagal mengatasinya.

Dalam sepekan terakhir, hampir tidak ada kasus lokal baru yang dilaporkan di Tiongkok, setelah strategi mereka dalam memerangi virus ini berubah menjadi sistem lockdown untuk mencegah virus ini menyebar dari luar negeri.

Secara global, jumlah kasus saat ini telah terhitung melampaui 380.000, dengan lebih dari 16.500 kematian. Laporan ini berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins, yang bekerja dengan cara melacak jumlah yang terhitung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sumber-sumber lainnya.

Pelonggaran batasan

Mulai hari Rabu, masyarakat di Hubei, kecuali Wuhan, akan diizinkan meninggalkan provinsi jika mereka memiliki kode QR hijau di ponsel mereka. Hal ini disampaikan oleh pihak pemerintah provinsi Hubei dalam sebuah pemberitahuan di Weibo, platform mirip Twitter China.

Hubei sebelumnya telah memerintahkan semua penghuninya untuk mendapatkan kode QR berbasis warna, yakni merah, kuning dan hijau. Kode warna ini yang berfungsi sebagai indikator status kesehatan bagi setiap orang di kota tersebut.

Warna-warna tersebut diberikan menurut database kontrol epidemi provinsi. Misalnya, orang yang telah didiagnosis sebagai kasus yang dikonfirmasi, dicurigai atau tanpa gejala, atau orang yang demam akan menerima kode warna merah. Sementara itu, orang-orang yang berada dan memiliki kontak dekat mereka akan menerima kode kuning. Orang-orang tanpa catatan dalam database akan mendapatkan kode hijau – yang berarti mereka sehat dan aman untuk bepergian.

Pada 8 April, pelonggaran pembatasan akan diperluas ke Wuhan, tempat coronavirus pertama kali muncul pada bulan Desember, dan penduduk dengan kode QR hijau akan dapat meninggalkan kota dan provinsi itu.

Selain itu juga, dalam pemberitahuan pemerintah tersebut, orang-orang dari wilayah lain di China akan diizinkan memasuki Hubei dan Wuhan jika mereka dapat menghasilkan kode QR hijau, tanpa perlu dokumen tambahan.

Aktifitas bisnis di Wuhan juga akan secara bertahap mulai beroperasi kembali, berdasarkan penilaian risiko, sedangkan tanggal pembukaan kembali untuk sekolah dan universitas masih belum ditetapkan.

‘Ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu’

Bo Hanlin, seorang penduduk Wuhan yang telah dikurung di rumahnya selama dua bulan, mengatakan ia menyambut baik berita itu. “Ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu,” katanya kepada CNN, Selasa.

Selama seminggu terakhir, sudah ada tanda-tanda bahwa pemerintah kota akan secara bertahap mengembalikan kehidupan menjadi normal. Beberapa penduduk telah diizinkan untuk kembali bekerja selama majikan mereka mengeluarkan surat kepada mereka, kata Bo.

Pemerintah Wuhan mengumumkan pada hari Minggu bahwa penduduk dengan kode QR kesehatan hijau dan surat dari majikan mereka akan diizinkan untuk kembali bekerja. Orang-orang ini hanya perlu menjalani pemeriksaan suhu ketika mereka kembali ke rumah. Semua pos pemeriksaan di dalam kota akan dihapus, dan layanan transportasi umum akan secara bertahap dilanjutkan, katanya.

Bo, seorang fotografer yang mengelola studionya sendiri, mengatakan ia tidak dapat kembali bekerja, karena ia tidak memiliki perusahaan untuk mengeluarkan surat kerja kepadanya.

Layanan pengiriman makanan juga secara bertahap kembali selama seminggu terakhir, menurut Bo, dan beberapa restoran di dalam komplek perumahan masyarakat telah dibuka kembali.

Namun selain untuk kembali bekerja, masyarakat masih tidak diizinkan meninggalkan lingkungan perumahan mereka, dan supermarket tetap ditutup, tambahnya.

Selama lebih dari sebulan, penduduk Wuhan telah diperintahkan untuk tinggal di rumah seiring dengan tindakan pemerintah dalam menetapkan pemberlakuan kebijakan lockdown. Mereka bahkan tidak diizinkan pergi ke luar untuk berbelanja bahan makanan. Sebagai gantinya, mereka harus bergantung pada komite lingkungan yang ditunjuk untuk membuat kelompok pesanan kebutuhan sehari-hari. Namun ini seringkali dengan harga yang lebih tinggi.

Untuk saat ini, Bo mengatakan, penduduk masih tidak diizinkan pergi berbelanja, tetapi ia mengatakan harga sudah mulai turun, dan sekarang ada lebih banyak pilihan sayur-sayuran.

Pengumuman pemerintah provinsi Hubei pada hari Selasa tidak menentukan kapan lockdown pada Kawasan perumahan di Wuhan akan dicabut.

Bo mempertanyakan mengapa orang luar akan diizinkan masuk ke Wuhan, sementara banyak penduduk kota masih terkurung di rumah maupun perumahan tempat tinggal mereka. “Sebagai warga Wuhan, saya merasa risikonya masih tinggi. Bagaimana jika ada kasus wabah impor? Kita harus tinggal di rumah lagi,” katanya.