FGD Semi-Virtual Menyikapi Kebijakan Covid-19 : Berkolaborasi Menajam Peduli

FGD Semi-Virtual Menyikapi Kebijakan Covid-19 : Berkolaborasi Menajam Peduli

Tren penyebaran virus Corona hingga saat ini belum menunjukkan penurunan seperti impian banyak pihak. Peningkatan jumlah yang terpapar dan berikutnya merenggut nyawa korban terus berjatuhan, bahkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bilangan mangsa korban Covid 19 sudah menyentuh angka 123 ribu jiwa manusia dari seluruh negara di dunia (15/4). Jumlah angka korban yang cukup fantastis itu, tentu sangat menggelisahkan, berikutnya menyulut goncangan psikologis yang dahsyat, yang akhirnya berdampak luas menyentuh semua lini kehidupan manusia sejagad raya.

Semua tidak menduga, virus yang lahir di Wuhan, Provinsi Hubei Tiongkok ini akan menjelma menjadi pandemik global. Wujud Corona virus yang kemudian dinamai Covid 19 itu mengusik semua pihak, karena lintasan penyebaran wabah mematikan ini tidak lagi menular antar warga negara (Imported Case), namun sudah melampaui dan menyentuh hampir setiap daerah (Local Transmisson). Pelbagai kebijakan, regulasi dan juga fatwa keagamaan turut hadir menyikapi kondisi wabah pandemik ini. Semua organisasi dan instutusi yang terafiliasi dalam pengurusan dan perhatian kepada persoalan kemanusiaan melakukan reaksi serta aksi simpatik atas segala keprihatinan yang sedang di alami umat manusia saat ini.

Bertolak dari persoalan inilah, ada kegelisahan yang membuncah, kemudian ikut berpartisipasi sesuai otoritas dan kemampuan yang dimiliki. Selanjutnya, meramu diskusi semi-virtual pada kegiatan Foccus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Sulthan Tahah Saefuuddin (UIN STS) Jambi (Kamis 16/4/2020). Kegiatan yang diinisiasikan oleh Suadi Asyari selaku Rektor UIN STS Jambi saat ini, bertujuan menyikapi pelbagai dampak yang ditimbulkan akibat wabah Covid 19 yang mendera dunia, termasuk bumi pertiwi tercinta. Pelbagai pihak dan puak turut diundang dan diminta berkontribusi memberi sumbangsih sesuai otoritas dan tugas masing-masing. Diskusi yang penuh kehangatan dan keakraban dalam suasana “senasib se-penangggungan” itu diawali kata pembuka oleh Rektor UIN STS, kemudian dari ahli kesehatan, Otortitas Jasa Keuangan (OJK), Kepala Bank Indonesia (BI) Kepala Ombusman, Fakar Pendidikan, Akademisi, MUI, serta yang mewakili dari Ormas NU dan Muhammadiyah yang ada di Provinsi Jambi.

Berdiskusi dalam mencari titik temu dari ragam bacaan tentang realitas, kemudian memberi solusi terhadap sebuah persoalan adalah bagian dari kerja intlektual yang sudah manjadi ‘sunnah’nya Perguruan Tinggi. Apatah lagi bagi perguruan tinggi keagamaan seperti UIN, yang dipikulkan beban tidak hanya pada ruang pengembangan ilmu pengetahuan semata, tapi juga sebagai simbol moral yang berbasis pada titah Tuhan. Maka, tanggung jawab moral terhadap persoalan kemanusian menempati prioritas nomor wahid sesuai orientasi ajaran Islam dan pengalam beragama secara bersamaan. Hal ini sesuai dengan esensi dan peran perguruan tinggi yang menggenerasi ide-ide baru dan mengakumulasi serta mentransmisi pengetahuan dan tekhnologi yang dibutuhkan bagi pembangunan umat manusia.

Semangat untuk berkontribusi dan hadir dalam menanggulangi penyebaran Covid 19 serta menyikapi multiply effect sebagai akibat wabah pandemik tersebut adalah suatu keniscayaan, terlebih lagi, tugas amal sholeh itu selaras dengan amanah pengabdian yang terangkum dalam tridarma Perguruan Tinggi secara keseluruhan. Pengabdian kepada masayarakat adalah core yang tidak bisa di tawar. Sebab, khidmatul ummat (pengabdian kepada masyarakat) menjadi tugas yang tak terpisahkan dari tanggung jawab pengamalan keilmuan, terlebih lagi bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Langkah mengambil peran dan memberikan pemikiran terhadap segala problematika umat dan bangsa, utamanya dalam persoalan Covid 19 seperti sekarang ini, menjadi kaharusan dalam merealisasikan integrasi pengetahuan. Sebab, perspektif kelimuan dalam bingkai Universitas Islam, khususnya di UIN Jambi sudah mengacu kepada transintergasi ilmu yang menafikan pembelahan pengetahuan antara sains tekhnologi dengan ilmu pengetahuan keagamaan. Sebagai terjemahan dalam praksisnya, dalam kondisi tertentu, membangun perusahaan indsutri memiliki kesamaan makna bagi umat dengan membangun rumah ibadah seperti Masjid. Bina al-mashani’ ta’dilu bina al-masajid kata Syeikh al-Ghazali dalam bukunya al-Thariq min Huna.

Menginisiasi diskusi semi-virtual-sesuai kondisi wabah Covid 19 ini-paling tidak bisa memberikan bukti bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) senantiasa memiliki sens of crisis terhadap semua problematika masyarakat. Sekaligus juga menunjukkan bahwa para intelektual muslim tidak selalu berada di atas langit ketika membicarakan persoalan bumi. Karena sejatinya, ‘pembicaraan langit’ (nass) itu esensinya adalah untuk memberikan kebaikan terhadap semua penghuni bumi (waqi’). Perpaduan dalam ‘mengawinkan’ ‘aql (realitas) dan naql (teks kSeagamaan) adalah sebuah ciri khas keilmuan moderasi Islam (wasathiyah) yang sekarang sedang digaungkan pendidikan keagamaan Islam, khususnya UIN STS Jambi.

Dalam diskusi yang dimulai pukul 14.00 hingga berakhir 17.00 wib itu, terasa begitu khidmat, karena para narasumber dapat saling berbagi informasi, pengetahuan dan bahkan kebijakan menyangkut Covid 19 yang sedang menghantui masyarakat luas sekarang ini. Ragam pelbincangan dari sudut ekonomi, sosial, politik, kesehatan dan agama teangkum ungkapan saling melengkapi dan bahkan saling menyempurnakan. Secara umum, bersepakat bahwa muibah Covid 19 ini masalah bersama anak bangsa yang harus dipikul dan dicari solusi bersama.

Dalam ucapan closing diskusi itu, Rektor UIN STS Jambi mengungkapkan beberapa hal; Pertama, mendukung kebijakan pemerintah dalam upaya penanggulangan penyebaran Covid 19 yang sungguh sangat membahayakan bagi kamanusiaan. Kedua, perlu adanya kesamaan persepsi serta keselarasan kebijakan dari semua pihak yang memeiliki otoritas. Ketiga, mengutamakan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan dengan menegasikan sekat-sekat yang membuat terbelahnya masyarakat akibat dari polarisasi kepentingan politik paktis. Keempat, mendukung sikap dan fatwa Majlis Ulama Indonesia tentang tanggung jawab keagamaan serta penyelenggaraan ritual ibadah sesuai kondisi darurat Covid 19. Kelima, mengajak semua elemen masyarakat untuk senantiasa waspada dan mengikuti protap pencegahan penularan Covid 19 sehingga wabah ini segera berakhir dengan sesegera mungkin, dan umat dapat bersua Ramadhan dengan sumringah.

Tentunya, kolaborasi dalam diskusi akademis seperti ini laik untuk dilanjutkan, karena menjadi wadah penampung banyak perspektif dalam meneropong persoalan dari ragam pandangan. Perhelatan ilmiah bisa terselenggara atas kerjasama banyak pihak, terutama para Wakil Rektor dan pihak lain yang telah berkontribusi luar biasa. Harapan besar dari diskusi berharga ini hendaknya membentang seperti kain adutemadun dalam cerita tua, jika digumpal menjadi seujung kuku, dan dikembangkan menjadi selebar alam, kata Buya Hamka. Wallahu a’lam.

Hermanto Harun, Dosen Pascasarjana UIN STS Jambi