Perspektif Moderat dan Ilmiah Penting dalam Penerjemahan Alquran

Perspektif Moderat dan Ilmiah Penting dalam Penerjemahan Alquran

Kementerian Agama mendukung keberagamaan yang moderat dan berbasis ilmu pengetahuan. Produk-produk yang dihasilkan, termasuk terjemahan Alquran ke dalam bahasa daerah, harus mencerminkan cara pandang tersebut.

Demikian ditegaskan oleh Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO), Balitbang Kementerian Agama RI, Muhammad Zain, ketika menjadi narasumber dalam kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun atau FGD Pembahasan Draf Validasi Penerjemahan Alquran ke Dalam Bahasa Melayu Jambi, Selasa (4/8) di Jambi.

Melalui telekonferensi, Zain mengatakan bahwa penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Melayu Jambi memang perlu memperhatian dua konteks: Arab tempat Alquran diturunkan dan Melayu Jambi sebagai bahasa sasaran. Meskipun demikian, komitmen terhadap nilai-nilai moderat dan pengetahuan modern harus juga ditonjolkan.

“Jadi yang kita inginkan adalah terjemahan Alquran dalam versi orang Melayu Jambi yang maju,” kata Zain.

Karena itu, Zain menekankan, para penerjemah dan validator perlu memperkaya dengan banyak karya tafsir, tidak hanya yang membahas Alquran kata per kata, tapi juga yang tematik (maudhu’i) dengan perspektif ilmiah atau tafsir al-‘ilmi.

Zain memberikan contoh penafsiran yang dilakukan oleh pemikir modernis Mesir, Muhammad ‘Abduh, terhadap Q.S. al-Fīl (105): 4. Di dalam tafsirnya, ‘Abduh memberikan alternatif pemaknaan baru bahwa tentara bergajah Abrahah diserang oleh bakteri atau virus. Pemaknaan ini tentu saja lebih sesuai dengan cara pandang modern dan ilmiah.

Menurut Zain, pemaknaan baru atas ayat Alquran adalah sesuatu yang lumrah. “Kata zarrah, misalnya, pernah diartikan benda kecil seperti rambut dibelah tujuh, dan belakangan menjadi atom, kemudian molekul.”

Hal lain yang juga ditekankan Zain menyangkut penerjemahan ayat-ayat terkait agama Abrahamik, yang perlu mencari titik-temu atau berangkat dari persamaan, bukan perbedaan. “Penerjemahan kafara menjadi kafir atau kufur akan punya nuansa yang berbeda,” tambahnya.

Proses penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Melayu Jambi telah dimulai sejak tahun lalu. Hasil terjemahannya yang telah selesai tahun itu, sedang dalam tahap validasi. Dalam penerjemahan tersebut, Puslitbang LKKMO bekerja sama dengan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. [mha]