Fadhilatul Hikmah Dosen UGM Paparkan Konsep IUP

Fadhilatul Hikmah Dosen UGM Paparkan Konsep IUP

Seiring dengan rencana rektor yang akan membuka Program Internasional Undergraduate Program (IUP) di UIN STS Jambi, Fadhilatul Hikmah Dosen Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta menyampaikan konsep IUP  ini pada kegiatan diskusi yang berlangsung di Rumah Moderasi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Jum’at ( 14/8/2020).

Dalam diskusi yang dihadiri oleh rektor dan para pimpinan termasuk para dosen alumni luar negeri, dosen muda UGM ini menyampaikan beberapa hal.

Pertama, Jalur masuk. Perbedaan pertama program IUP dan reguler terletak pada jalur masuknya. Jika program reguler melalui tiga jalur SNMPTN, SBMPTN, UTUL dan PBU, program IUP memiliki jalur sendiri yang sudah dibuka sebelum jalur lain membuka pendaftaran.

Kedua, materi ujian masuk. Hal kedua yang membedakan yaitu ujian masuk Program IUP. Program IUP  mensyaratkan calon mahasiswa untuk mengikuti tes potensial akademik (Gadjah Mada Scholastic Test/ GMST), kemampuan dasar bahasa Inggris (TOEFL ITP, IELTS), Leadership Group Discussion, dan wawancara. Sedangkan program reguler  tes ujiannya memiliki tiga kategori; Kelompok ujian sains dan teknologi (Saintek), Kelompok ujian sosial dan humaniora (Soshum) dan Kelompok ujian campuran (Saintek dan Soshum).

Ketiga, Biaya perkuliahan dan fasilitas. Tak hanya jalur masuk dan materi ujian, dari segi biaya tentu program IUP memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Mahasiswa program reguler dikenakan biaya berdasarkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang disesuaikan dengan penghasilan orang tua sementara Program IUP, biaya kuliah rata-rata untuk tiap Prodi sebesar Rp.30 juta. Tentu jumlah tersebut disesuaikan dengan fasilitas yang berbeda dengan kelas reguler pada umumnya.

Keempat, Proses belajar. Jika kelas reguler, bahasa pengantar yang digunakan masih menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris. Pada program internasional kondisinya berkebalikan. Proses belajar pada Program Internasional menggunakan bahasa Inggris penuh. Kendati beberapa bahan bacaan masih menggunakan bahasa Indonesia, namun untuk diskusi sehari-hari mahasiswa dituntut menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, pada beberapa mata kuliah didatangkan dosen dari luar negeri untuk mengajar di kelas.  Seperti di Fakultas Hukum yang mengundang Prof. Fokke Fernhout dari Maastrict University Belanda untuk mengampu mata kuliah Filsafat Hukum.

Kelima,International exposure. Perbandingan lain yang paling kentara yakni adanya syarat kelulusan bagi mahasiswa Program Internasional untuk melakukan international exposure. Mahasiswa dituntut memiliki pengalaman studi di kancah internasional, biasanya dalam wujud double degree program.Hal ini biasanya dilaksanakan dengan universitas di luar negeri yang menjadi partner Prodi, Seperti Fakultas Hukum dengan Universitas Maastricht di Belanda, Universitas Charles Darwin di Australia, dan banyak lagi.

Mahasiswa yang mengikuti double degree akan menghabiskan setengah masa studinya pada universitas tersebut. Sehingga saat lulus, nantinya akan mendapat gelar dari UGM dan universitas tujuannya. Namun, exposure ini juga bisa berupa keikutsertaan mahasiswa yang bersangkutan dalam perlombaan di tingkat Internasional, konferensi, pertukaran pelajar atau short course.

Sebelumnya Rektor Prof. Su’aidi menyampaikan keinginannya membuka IUP di UIN STS Jambi, mengingat Visi dan Misi serta program yang dijalankan saat ini sudah mengarah ke Internasional diantaranya merubah perwajahan kampus dengan standar internasional, termasuk juga bangunan SBSN yang sedang dibangun saat ini. Selain itu, banyak sekali program yang dijalankan sekarang, ia mengharapkan IUP di UIN STS Jambi dapat  segera dilaksanakan.