MELINTAS LINIERITAS TANPA BATAS

MELINTAS LINIERITAS TANPA BATAS

Catatan Pinggir FGD FAH UIN STS Jambi

Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN STS Jambi mengadakan Focus Group Discussion (FGD) pada Hari Sabtu, 12 September 2020 dengan tema “Prospek Penelitian dan Pengabdian Masyarakat: Klaster Ilmu-Ilmu Keadaban”. Menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum; Ayub Mursalin, Ph.D, dan Dr. Zarfina Yenti, M.Ag.

Banyak hal menarik yang dapat diambil dari diskusi yang diselenggarakan secara daring (online) ini. Poin-poin penting yang memungkinkan untuk menjadi panduan para akademisi dalam melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, juga ‘perubahan’ kebijakan bagi para pengambil keputusan untuk mendukung dan membangun budaya akademik yang baik.

Karena banyaknya ide dan gagasan melalui diskusi ini, saya khawatir artikel singkat ini tidak mampu menampilkannya secara utuh. Maka dari itu, tanpa mengutip atau merujuk para pembicara, artikel kecil ini saya tulis secara umum dari catatan-catatan yang saya buat dari diskusi tersebut. Inilah catatan pinggir.

Pertema, distingsi keilmuan dan kelembagaan. Penting untuk bertanya, ‘apa beda Fakultas Adab dan Humaniora UIN STS Jambi dengan FAH di UIN lain, atau di Fakultas Ilmu Budaya di universitas-universitas ‘umum’ lain?’. Ini pertanyaan dasar untuk memcari ‘pembeda’. Pembeda ini penting untuk menentukan jati diri institusi yang turunannya sampai pada keilmuan para dosen di dalamnya.

Lebih khusus, distingsi inilah yang juga akan berpengaruh pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarat. Output dan outcome yang dihasilkan oleh para akademisinya akan memunculkan ke-khasan. Alumni yang dilahirkan juga akan memiliki ‘warna’ sendiri.

Hal ini sebenarnya juga sudah menjadi kajian beberapa tahun lalu. Saya kembali membuka dokumen lama. Kembali ke tahun 2014 silam saat pendirian Melayu Institute (Pusat Kajian Melayu) di FAH UIN STS Jambi. Saya dipercaya oleh pimpinan kala itu sebagai ketuanya.

Bekerja sama dengan berabagai stakeholder termasuk DPDR Provinsi Jambi, berbagai program kerja telah disusun sedemikian rupa. Salah satu poin terpenting adalah membagun distingsi UIN STS Jambi (waktu itu masih IAIN STS Jambi) di mulai dari Fak. Adab. Ide besarnya adalah menjadikan UIN STS Jambi sebagai Pusat Kajian Peradaban Melayu.

Ide dasarnya jelas; menjadi ‘world class university’ dengan ‘cita rasa’ lokal yang tinggi. Jika ingin menjadi world class dengan mengedepankan tekhnologi yang canggih, layanan yang mutakhir, fasitilas yang mewah, dan lain sebagainya agaknya masih perlu perjuangan. Tapi dengan membangun ‘ke-uniq-an’ sendiri akan memiliki daya tawar bergengsi di percaturan keilmuan dunia.

Maka melalui beberapa program kerja yang telah disusun, termasuk mengubah seluruh bentuk bangunan (yang akan dibangun, yang lama jangan diganggu) dengan menampilkan ‘ke-Melayuan’. Boleh gedung mewah dan megah, tapi wajib memunculkan ciri fisik bangunan Melayu. Ketika orang masuk gerbang kampus, seolah-olah mereka berada di Negeri Melayu yang ‘asing’. Megah tapi berbudaya!

Begitu juga dalam hal berpakaian. Jika ada anak muda yang mengenakan baju Teluk Belango dan sarung selutut setiap hari Kamis, itu pasti mahasiswa UIN. Jika ada anak gadis berjilbab dihiasi Tengkuluk Jambi, itulah mahasiswi UIN. Jika ada surat menyurat resmi yang diawali oleh pantun-pantun menarik, itu pasti dari UIN. Jika ada penyambutan tamu penting dengan upacara adat, pastilah di UIN. Pokoknya distinctive banget. Kasat mata, UIN bisa menjadi ‘black sheep’ yang menonjol dengan keunikannya sendiri.

Begitu juga dengan program-program keilmuan. Di kampus ini harus dibangun perpustakaan terbesar yang menyediakan segala macam literature Kemelayuan. Dari buku sampai artefak (duplikat). Saya (dengan biaya sendiri) waktu itu sampai berkunjung ke Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu yang ada di Yogyakarta. Di sana terdapat ribuan literatur yang dapat ‘dipindahkan’ ke UIN STS Jambi. Mimpi besarnya membangun Perpustakaan Peradaban Melayu Terbesar di Indonesa (bahkan dunia). Kumpulkan seluruh literature Melayu yang ada di dunia. Kasarnya, asal ada ‘bauk-bauk’ Melayu, pasti ada di UIN STS Jambi.

Dan, masih banyak lagi gagasan dan program kerja yang disiapkan untuk mencapai visi yang besar tersebut. Visi untuk menjadi berbeda dengan jati diri sendiri. Namun nampaknya masih membutuhkan waktu dan ‘perjuangan’ untuk mewujudkannya. Semoga Melayu Institute tidak layu ditelan waktu.

Kedua perspektif. Titik tekannya adalah ‘boleh meneliti apa saja (bahkan bukan bidang keilmuan anda), tapi perspektifnya harus keilmuan anda sendiri’. Bolehkah dosen Prodi Sejarah dan Peradaban Islam meneliti Pandemi Covid-19? Boleh, tapi jangan bicara bagaimana virus ini berkembang biak, atau cara menacari anti virusnya. Itu urusan dokter atau ahli epidemologi. Maka akademisi SKI akan bicara Covid-19 dari perspektif sejarah Islam dalam menghadapi berbagai pandemi di masa lalu.

Maka untuk memformulasikannya, pada FGD kali ini Prof. Oman menawarkan rumusan; Humaniora, Islamic studies, dan sumber lokal. Inilah salah satu cara untuk membangun persepektif tersebut, khsusnya dalam penelitian dan pengabdian pada masyarkat.

Dengan cara inilah pula saya menyederhanakannya menjadi ‘melintas linieritas tanpa batas’. Dengan cara ini kita akan ‘berhenti’ latah bicara linieritas keilmuan. Lebih sederhana lagi, ilmu apa saja boleh meneliti apa saja! Tapi ingat, jangan keluar dari perspektif keilmuan yang anda miliki. Bukankah hal ini juga sejalan dengan ‘kampus merdeka’ yang akhir-akhir ini didengungkan pemerintah?

Ketiga, peluang dan tantangan. Tidak akan habis tema dan ‘lahan’ kajian bagi para akademisi kampus untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi sepanjang masa. Begitu banyak hal yang harus dikaji secara ilmiah (Dr. Zarfina Yenti). Maka penting juga bagi para dosen untuk membuat road map penelitian yang akan dilakukan (Ayub Mursalin, Ph.D). Tentu semua ini, harus menyesuaikan dengan keilmuan dan kebijakan kampus.

Maka, kembali pada persoalan distingsi di atas, seharusnya penelitian-penelitian dosen pun harus mampu menonjolkan ke-khasan yang telah disepakati dalam kebijakan kampus. Pertanyaannya, sudahkah UIN STS Jambi menetapkan distingsi dirinya? Apa yang membedakan UIN STS Jambi dengan UIN lain di seluruh Indonesia? Gedung-gedung mewah mencakar langit? Hotel mewah? Kebun buah? Kolam pemancingan?

Maka peluang sekaligus tantangan menganga di depan. Salah satu yang sangat menarik disampaikan oleh Prof. Oman adalah akan dilakukan Rekonstruksi Jalur Rempah. Bagaimana peran Jambi dan masyarakat Islam Jambi dalam percaturan jalur rempah di masa lalu? Jangan-jangan jalur rempah ini adalah juga rute islamisasi sehingga Islam sampai ke Jambi. Dan banyak lainnya. Akankah UIN STS Jambi ambil bagian dari ‘gawean’ bergengsi ini? ‘Jangan jadi penonton’, kata Prof. Oman.

Akhirnya, FGD kali ini telah mendiskusikan banyak hal penting dengan gagasan dan ide yang besar dari para pembicara. Tinggal lagi, bagaimana ‘mengeksekusi’ gagasan-gagasan itu menjadi aksi. Terima kasih kepada Dekan FAH dan seluruh tim yang telah sukses menyelenggarakan hajatan ilmiah ini. Sungguh, kebijakan-kebijakan para pengambil keputusan (di berbagai level) jualah yang akan menjadi penentu pembangunan budaya akademik di kampus tercinta ini.

(Sumber : Bahren Nurdin/Dosen Fak. Adab dan Humaniora UIN STS jambi/Motivator)