Hasil Penelitian #13 : Dialek Melayu Orang Rimba di Provinsi Jambi

Hasil Penelitian #13 : Dialek Melayu Orang Rimba di Provinsi Jambi

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi kembali menggelar Hasil Penelitian secara daring, Kamis (17/09).

Materi kali ini membahas tentang Dialek Melayu Orang Rimba di Provinsi Jambi yang dipaparkan oleh Diana Rozelin melalui aplikasi zoom. Diana menyampaikan bahwa banyak orang di Provinsi Jambi beranggapan jika Orang Rimba adalah orang luar, bukan bagian dari orang Jambi asli.

Semua berawal dari Dongen, seorang Belanda yang di tugaskan pemerintah Hindia Belanda untuk mengumpulkan banyak kosa kata dari daerah jajahannya di pulau Sumatra, termasuk Palembang, Jambi dan Padang.

Di Palembang Dongen menemukan sekelompok Orang Rimba dengan Bahasa yang sulit di pahami dan pada saat dia sampai di Jambi, lagi-lagi dia menemukan kelompok yang menggunakan bahasa sehari-harinya sulit untuk dipahami.

Dongen meneliti selama 4 tahun, dari hasil penelitian tersebut dia tuangkan dalam sebuah buku, “Kamus Bahasa Kubu”. Buku tersebut sekarang tersimpan di museum Jambi dan masih menggunakan Bahasa Belanda yang sudah terjemahkan oleh Bu Hartini.

Dongen masih menganggap jika Bahasa orang Rimba itu memiliki bahasanya sendiri yang berbeda dari Bahasa Melayu pada umumnya. Kantor Bahasa Jambi pada tahun 2009 membuat satu kamus tentang Bahasa kubu  yang bisa saja menjadi artian jika Bahasa Kubu bukanlah bagian dari Bahasa Melayu.

Namun pada saat Ibu Diana melakukan penelitian pada tahun 2012, dia merasa bisa sedikit memahami kosa kata dari Orang Rimba. Jadi, ada sedikit perkembangan dan perbedaan antara temuan sebelum dan sesudah penelitian,

Dalam satu buku yang diterbitkan pada tahun 1975 membahasa persoalan ini mengemukakan bahwa orang Rimba terdiri dari tiga bagian. Pertama di Kabupaten Batanghari itu termasuk keturunan dari Palembang sekarang telah terjadi pemekaran masuk ke Muaro Jambi, Kedua adalah orang Rimba yang dari Kabupaten Tebo-Bungo dan sebagian Batang Hari itu termasuk ke keturunan Minangkabau. Ketiga, orang-orang rimba yang berada di Kabupaten Sarolangun masuk pada keturunan Air Hitam. Tetapi berdasarkan hasil temuan bahwasannya kelompok orang Rimba yang di Sarolangun adalah keturunan dari Minangkabau, sedangkan yang dari batang hari atau masuk sekarang ke wilayah Muara Jambi itu memang keturunan dari Palembang.

Kalau berdasarkan tempat tinggal, ada dua klasifikasi orang Rimba yaitu kelompok kubu liar, dimana mereka menetap di hutan dan tak berpindah-pindah, juga tidak mau melakukan komunikasi dengan masyarakat luar. Sedangkan satu lagi adalah kelompok orang Rimba yang tinggal di hutan tapi masih mau melakukan kontak komunikasi melalui Jenang. Selain itu terdapat tiga klasifikasi tempat tinggal orang Rimba yakni, orang Rimba yang tinggal di dalam hutan dan berpindah-pindah, kemudian kelompok orang Rimba tinggal di hutan dan menetap, terakhir kelompok orang Rimba yang tinggal di perkebunan sawit.

Membahas tentang Dialek, Diana mengatakan bahwa Dialek adalah bagian daripada bahasa, namun Bahasa belum tentu bagian dari sebuah dialek. Dalam Bahasa sendiri juga ada dialek dan Sub-dialek, namun karena Orang Rimba belum memiliki status yang jelas, maka bahasa mereka disebut Isolek.

Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri leksikal dan fonologis, isolek Orang Rimba di Provinsi Jambi yang mencakupi tiga kabupaten adalah dua dialek, empat sub-dialek dan empat wicara. (Bella, Galang, Rizky, Amin, Iqbal)