PTKI Diminta Tingkatkan Riset Aplikatif

PTKI Diminta Tingkatkan Riset Aplikatif

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) diminta meningkatkan riset-riset ilmiah yang dapat berkontribusi pada kehidupan masyarakat secara riil. Kampus jangan menjadi sentra inseminasi ilmu pengetahuan yang keberadaannya berjarak dengan realita sosial.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Suyitno, meminta seluruh rektor perguruan tinggi Islam, baik negeri (UIN, IAIN, dan STAIN) maupun swasta untuk melakukan penelitian yang kontributif bagi pembangunan bangsa dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

“Kita memiliki masalah sedikitnya hasil riset yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Kampus Islam harus meningkatkan perannya di sini,” kata Suyitno dalam acara Rapat Kerja Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam di Novotel Lampung, Kamis (3/6/2021).

Raker yang mengambil tema “Penyiapan Pengembangan Akademik, Ketenagaan, Sarpras, Kelembagaan, dan Penelitian,” ini dihadiri rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. H. Su’aidi, MA.,Ph.D, dan rektor PTKIN se-Indonesia, serta para pejabat Diktis.

Suyitno melanjutkan, penelitian ilmiah tidak boleh hanya berhenti di perpustakaan. Riset-riset itu harus aplikatif karena dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat menuju peradaban yang lebih maju dalam bingkai spiritualitas, sesuai warna PTKI. “Perbanyak saja jumlah penelitian, nanti pasti akan dapat diterapkan untuk bahan pengajaran dan pengabdian di masyarakat,” tambahnya.

Penelitian penting dilakukan untuk mengetahui dan membandingkan antara pendalaman data dan fakta yang terjadi di masyarakat. Aktifitas riset ini biasanya dapat memotret masalah yang terjadi di lingkungan dan memberikan jawaban yang tepat bagi problematika umat. Jawaban yang dihasilkan penelitian tersebut dalam jangka panjang akan membentuk sebuah habit baru yang bisa membentuk kebudayaan yang lebih berguna bagi masyarakat dunia.

PTKI sudah saatnya bertransformasi dari universitas berbasis pengajaran (teaching university) menjadi universitas berbasis riset (research university). Salah satu ciri kampus yang masih berbasis teaching adalah menerapkan banyak mata kuliah secara tumpang tindih. Di sana penelitian sudah dilakukan akan tetapi hanya sebagai penghapus beban kerja saja.

Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani juga mengingatkan bahwa kampus Islam perlu melakukan pemindaian lingkungan dengan fokus mencari persoalan yang terkait dengan keilmuan yang dipelajari. “Kita memiliki banyak hal yang perlu dirumuskan terkait dinamika masyarakat terkini,” katanya.

Dibandingkan dengan negara-negara tetangga jumlah publikasi ilmiah di Indonesia terbilang minim. Namun belakangan ini frekuensinya menunjukkan kenaikan. Di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta misalnya, jumlah riset terpublikasi jurnal ilmiah berindeks scopus terus bertambah.

Data infografik Pusat Penelitian UIN Jakarta menunjukkan jumlah artikel ilmiah terpublikasi dan terindeks Scopus mencapai 860 artikel. Jumlah ini disumbangkan oleh 620 author dari berbagai fakultas UIN Jakarta tahun 2020. Penelitian ini terbagi ke dalam 25 klaster bidang ilmu seperti Computer Sciences, Social Sciences, Engineering, dan Medicine. Lalu, biochemistry, chemistry, nursing dan lainnya. (Sumber : Kemenag.go.id)