Home / Berita Terbaru / Kebersamaan dalam Keberagaman Perspektif Ramadhan Oleh Dr. H. Hadri Hasan, MA Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Kebersamaan dalam Keberagaman Perspektif Ramadhan Oleh Dr. H. Hadri Hasan, MA Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Salah satu aset terbesar yang dimiliki manusia sebagai sebuah komunitas adalah rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan didefinisikan sebagai sebuah kesadaran manusia yang mengikat individu-individu untuk menggapai tujuan bersama. Kebersamaan lebih dari sekedar bekerja sama atau hubungan profesional biasa. Kebersamaan selalu dilandasi dengan pendekatan kekeluargaan, solidaritas, dan simpati. Al-Quran sendiri menguraikan nilai-nilai kebersamaan sesama muslim (Ali Imran: 103, al-Hujarat: 10). Dalam ayat ali Imran: 103 Allah memerintahkan manusia untuk berkomitmen dalam tali (agama) Allah. Sebagian besar mufasir menginterpretasikan habl dengan agama. Habl secara literal berarti tali ditafsirkan dengan agama karena memiliki madlul (penunjukan makna) yang sama, yaitu sama-sama sebagai pegangan. Dimana, tali adalah pegangan indrawi, sedangkan agama adalah pegangan majazi. Namun, sebagian mufasir lain seperti Rashid Ridha menginterpretasikan habl dengan makna kemanusiaan. Agaknya Ridha ingin menegaskan nilai universalitas al-Quran yang melewati sekat-sekat perbedaan manusia modern seperti ras, suku dan agama.

Tidak hanya uraian nilai kebersamaan, al-Quran juga memberikan bimbingan agar hubungan kebersamaan antara manusia tetap kokoh. Seperti perintah untuk bersilaturahmi (al-Ra’du: 21), tolong menolong (al-Maidah: 2), musyawarah (ali Imran: 159), ishlah (al-Hujarat: 9). Ayat-ayat al-Quran di atas mendorong manusia untuk sadar akan arti kebersamaan, mengutamakan persamaan dan mengacuhkan perbedaan-perbedaan yang dilatarbelakangi oleh ego, nafsu, dan amarah. Karena perbedaan merupakan ancaman terbesar persatuan dan kebersamaan.

Islam secara sadar mengakui keberagaman merupakan sunnatullah, Al-Quran sendiri tidak menafikan keberadaan perbedaan di antara manusia. Bahkan perbedaan itu diproyeksikan sebagai rahmat Allah bagi manusia. Dalam surat al-Nisa : 1 disebutkan bahwa pola penciptaan manusia adalah dengan konsep keberagaman. Laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, tua dan muda, adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Akan tetapi, semua keberagaman itu harus dipastikan dalam kerangka yang positif. Keberagaman untuk saling mengingatkan, keberagaman untuk saling mengenal, keberagaman untuk saling memberi manfaat dan lain-lain.

Oleh sebab itu, konsep yang benar tentang keberagaman adalah bagaimana mengelola keberagaman sehingga menjadi sebuah kekuatan. Bukan malah membuat umat menjadi lemah dan runtuh. Maka diperlukan leadership yang kuat untuk menyatukan semua perbedaan. Diperlukan jiwa kompromi, legowo, toleran, dan semisalnya. Agar tujuan kehidupan secara kolektif terpenuhi dan memberikan rasa aman, damai dan tentram dalam bermasyarakat.

Saat ini kita berada dalam ruang dan waktu penuh keberkahan yang bernama Ramadhan. Ramadhan tidak hanya momen untuk melaksanakan ritus ibadah puasa. Ramadhan dipahami lebih dari sekedar sahur, puasa, berbuka, tarawih, dan tadarus. Ramadhan merupakan syahru tarbiyah (bulan pendidikan). Bulan bagi setiap individu untuk mendidik seluruh anggota tubuhnya dalam melakukan kebajikan dan hal-hal positif. Memberikan manfaat bagi sesama dan membiasakannya sehingga dikemudian hari kebajikan, perilaku positif dan manfaat itu menjadi karakter yang mendarah daging dalam pribadi dan kepribadian umat. Maka, dalam hal ini ramadhan bukan hanya ibadah individual tetapi juga memiliki dampak kolektif dan sosial. Oleh sebab itu, Ramadhan merupakan momen yang cocok untuk memupuk rasa kebersamaan di tengah keberagaman.

Ramadhan mengajarkan untuk berempati kepada kesenjangan, kekurangan yang dialami oleh sesama. Ramadhan mendorong setiap individu bersimpati atas kemalangan orang lain. Karena sesungguhnya konsep kehidupan manusia adalah tadawul (bergiliran). Sebagaimana Allah berfirman dalam al-Quran dalam surat ali Imran: 140 berbunyi: “tilkal ayyam nudawiluha baynannas” (pada hari itu kami pergilirkan (status) diantara manusia). Boleh jadi, kesenangan yang dimiliki adalah kesenangan temporal untuk menguji keimanan dan komitmen kita. Beberapa hari yang lalu, terjadi kebakaran hebat di Desa Pangkal Duri, Tanjab Tim. Kejadian ini menguji komitmen kebersamaan kita sebagai umat muslim.

Ramadhan mengajarkan kita rasa empati, simpati kepada sesama. Ramadhan mengajarkan kita untuk komitmen sosial sesama muslim untuk saling menolong, saling membantu, paling tidak saling mendoakan. Memahami bahwa puasa pada bulan Ramadhan diyakini tidak hanya ibadah dengan dimensi vertikal, namun juga memberikan dampak horizontal. Persepsi ibadah hanya dengan orientasi vertikal adalah kesalahan. Dalam Kitab al-Qiyam al-Insaniyah fi al-Quran al-Karim, Syeikh Wahbah Zuhaili membagi ada 4 kriteria term kemanusiaan dalam al-Quran, yaitu: Humanisme Religius, Humanis etis, humanis sosial, dan humanis personal. Artinya, al-Quran sangat memperhatikan rasa kemanusiaan dalam setiap aspek kehidupan seorang muslim.

Wallahua’lam bis shawab.

About ferty

Check Also

Penampilan Tim Qasidah dan Bazar Ramadhan Dharma Wanita Persatuan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Tim Qasidah di bawah binaan Ibu Ketua Dharma Wanita Persatuan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha …

Mersin Escort Bayan Mersin Escort Bayan Kayseri Escort Bayan Eskişehir Escort Bayan http://istanbulescorttr.org http://www.istanbulescortads.com escort istanbul gaziantep escort beylikdüzü escort mersin escort model escort mecidiyeköy escort nisantasi escort sisli escort sirinevler escort tartım terazisi ankara escort beylikdüzü escort porno izle Sex izle porno izle çankaya escort Ankara Escort Eryaman Escort Çankaya escort Ankara Escort Ankara Escort Etlik Escort Antalya Escort escort istanbul branda antep escort izmit escort bayan avrupa yakasi escort escort sisli http://www.antges.com sirinevler escort bayan istanbul sisli escort escort bayan sirinevler atakoy escort