Home / Berita Terbaru / Puasa Membentuk Pribadi Yang Ikhlas Oleh Dr. A. A. Miftah, M. Ag Dekan Fakultas Syariah

Puasa Membentuk Pribadi Yang Ikhlas Oleh Dr. A. A. Miftah, M. Ag Dekan Fakultas Syariah

Keikhlasan merupakan energi yang sangat dahsyat dalam membangun peradaban manusia. Hal ini telah dicontohkan dengan sangat baik oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya ketika mereka berjuang menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Mereka berjuang semata-mata hanya mengharapkan balasan dari Allah SWT semata. Keikhlasan mereka telah membuahkan hasil bagi lahirnya peradaban Islam yang sangat menakjubkan dunia sampai hari ini. Fenomena hari ini dimana kita menyaksikan banyak dimensi dari kehidupan kita yang telah teracuni oleh virus materialisme. Pertolongan dan persahabatan banyak ditentukan oleh ada-tidaknya keuntungan secara material dan duniawi yang terbungkus dalam wujud jabatan, relasi bisnis, dan wibawa sosial. Keikhlasan menjadi sangat langka dan aneh. Ketika ada orang yang berbuat kebaikan tanpa mengharap apapun dipandang aneh dan tak masuk akal. Justru yang banyak terjadi pada hari ini adalah tidak ada pekerjaan yang tanpa imbalan. Bahkan cara pandang seperti ini telah merasuki dunia pendidikan. Krisis keikhlasan inilah barang kali ungkapan yang pantas dilekatkan kepada fenomena hari ini.

Memang dalam memahami persoalan ikhlas ini, setidaknya ada 2 pemahaman yang berkembang di kalangan umat Islam. Pertama, ikhlas itu adalah niat untuk melakukan perbuatan baik semata-mata hanya mengharapkan ridha dari Allah SWT dan tidak sedikit pun mengharapkan imbalan berupa materi. Bagi mereka yang berbuat baik dan terselip niat untuk mendapat imbalan materi, maka ia dapat dinyatakan tidak ikhlas. Kedua, ikhlas itu adalah niat untuk melakukan perbuatan baik yang sangat mengharapkan ridha dari Allah SWT dan juga terselip di dalamnya niat untuk mendapatkan imbalan materi, tetapi pengharapan terhadap ridha Allah SWT tetap melebihi dari pengharapan terhadap materi tersebut. Andaikata harapan terhadap materi itu tidak sesuai dengan harapannya, maka ia tidak pernah kecewa, apalagi sakit hati, dan tidak pernah menyesal atas perbuatan baik yang dilakukannya. Baginya perbuatan baik itu adalah ladang amal baginya. Mungkin saat ini, banyak orang yang setuju dengan pemahaman yang kedua.

Kehadiran bulan suci ramadhan menjadi saat bagi kita semua untuk mengajukan pertanyaan kepada diri kita masing-masing, sudahkah saya berbuat dengan penuh keikhlasan dalam tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada saya. Jika jawabannya belum, maka saatnya ramadhan kali ini merubah cara berfikir kita untuk menjadi orang-orang yang ikhlas dalam beramal dan bekerja.

Puasa mendekatkan seorang hamba kepada sang penciptanya.Dengan berpuasa, sesungguhnya kita terkondisikan dalam suasana batin yang menghubungkan kita dengan sang pencipta, Allah SWT. Suasana batin yang demikian ini mendorong seseorang untuk berbuat kebaikan dan yang terbaik bagi kehidupan ini. Dalam pikiran dan batinnya, hanya Allah SWT lah sebagai akhir dan tujuan dari hidup ini. Cara pandang dan berfikir yang demikian inilah yang pada akhirnya mengantarkan seseorang memiliki pribadi yang ikhlas. Tidak pernah kecewa apalagi marah ketika perbuatan baik yang telah dilakukannya tidak mendapat penghargaan apalagi imbalan. Ia tetap terus dan konsisten untuk melakukan perbuatan baik dan yang terbaik bagi kehidupan ini.

Ibadah puasa dan pribadi yang ikhlas bagaikan madu yang dihasilkan oleh lebah. Madu menjadi obat bagi banyak penyakit. Sikap hidup yang penuh dengan keikhlasan merupakan obat di tengah wabah penyakit sikap hidup yang serba pamrih dan menganut asas manfaat. Sikap hidup ikhlas akan mengantarkan kepada kemajuan. Oleh sebab itu sangat wajar bila dalam Islam, sifat riya’ sangat dilarang. Karena sifat riya’ ini tidak saja akan menghancurkan nilai pahala tetapi juga akan merendahkan martabat kemanusiaan.

Melalui ibadah puasa sesungguhnya kita sedang berjuang keras untuk menghapuskan sifat riya’ yang mungkin masih berada dalam qalbu kita dan memantapkan sifat ikhlas tersebut. Hal ini karena hanya Allahlah yang mengetahui apakah kita benar-benar berpuasa secara lahir dan batin ataukah kita hanya puasa secara lahiriah saja. Tiga tingkatan puasa yang dikemukakan oleh al-Ghazali merupakan gambaran dari tingkat keikhlasan orang yang berpuasa. Tentu tingkat keihklasan yang paling baik adalah tingkat keikhlasan orang-orang shaleh dan para nabi. Mudah-mudahan puasa tahun ini dapat membentuk pribadi kita yang ikhlas.

 

 

About ferty

Check Also

Penampilan Tim Qasidah dan Bazar Ramadhan Dharma Wanita Persatuan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Tim Qasidah di bawah binaan Ibu Ketua Dharma Wanita Persatuan Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha …

Mersin Escort Bayan Mersin Escort Bayan Kayseri Escort Bayan Eskişehir Escort Bayan http://istanbulescorttr.org http://www.istanbulescortads.com escort istanbul gaziantep escort beylikdüzü escort mersin escort model escort mecidiyeköy escort nisantasi escort sisli escort sirinevler escort tartım terazisi ankara escort beylikdüzü escort porno izle Sex izle porno izle çankaya escort Ankara Escort Eryaman Escort Çankaya escort Ankara Escort Ankara Escort Etlik Escort Antalya Escort escort istanbul branda antep escort izmit escort bayan avrupa yakasi escort escort sisli http://www.antges.com sirinevler escort bayan istanbul sisli escort escort bayan sirinevler atakoy escort