Kisah Inspiratif Revo, Wisudawan Terbaik UIN STS Jambi dengan IPK 3,96
JAMBI – Revo Rahmatullah Riadi terpilih menjadi Wisudawan Terbaik Tingkat Universitas UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Penghargaan ini diraih dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-72, Magister ke-45, dan Doktor ke-21. Wisuda periode II berlangsung pada Sabtu – Minggu (22-23/8/2026)egiatan tersebut digelar di Auditorium Chatib Quzwain UIN STS Jambi.
Revo merupakan lulusan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN STS Jambi. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96 dan predikat Summa Cumlaude. Menariknya, masa studi Revo hanya berlangsung selama tiga tahun delapan bulan.
Revo Rahmatullah Riadi lahir di Jambi pada 22 tahun lalu. Selama menjalani pendidikan, ia memiliki ketertarikan terhadap bahasa Arab dan Inggris. Namun, perjalanan akademiknya tidak selalu berlangsung mudah. Revo mengaku berasal dari keluarga yang tidak berlatar pendidikan agama.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika memasuki dunia akademik keislaman. Terlebih, pembelajaran tafsir membutuhkan kemampuan bahasa Arab yang memadai. Selain itu, Revo tidak pernah menempuh pendidikan pesantren sebelum menjalani perkuliahan. Karena itu, ia harus membangun kemampuan keagamaannya secara bertahap.
Alih-alih menyerah, Revo memilih memperkuat kemampuan bahasa Arab melalui pelatihan. Ia mengikuti pelatihan bahasa Arab selama empat tahun. Langkah ini dilakukan untuk menunjang pembelajaran tafsir berbasis kitab dan turats. Proses itu membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, serta komitmen yang konsisten.
Berkat proses tersebut, kemampuan bahasa Arab Revo berkembang secara signifikan. Ia kemudian mampu membaca berbagai kitab tafsir sebagai sumber pendukung akademiknya. Kemampuan tersebut juga menjadi bekal penting dalam menyelesaikan tugas akhir. Revo kemudian mengangkat isu sosial yang berkembang di ruang digital.
Skripsi Revo berjudul “Analisis Double Movement Fazlur Rahman Tentang Namimah dan Signifikansinya Terhadap Fenomena Postingan SARA di Media Sosial”. Penelitian ini membahas fenomena postingan bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan. Fenomena tersebut beberapa kali muncul di berbagai platform media sosial.
Menurut Revo, postingan SARA dapat menimbulkan implikasi serius terhadap stabilitas sosial. Karena itu, fenomena tersebut membutuhkan pendekatan keilmuan yang relevan. Melalui penelitian tersebut, Revo berupaya menghadirkan perspektif Al-Qur’an dalam memahami fenomena tersebut. Ia mengkaji larangan namimah sebagai salah satu perspektif dalam menghadapi penyebaran informasi yang berpotensi memicu konflik. Kajian tersebut kemudian dikaitkan dengan teori Double Movement yang dikembangkan Fazlur Rahman. Pendekatan tersebut digunakan untuk menemukan relevansi nilai Al-Qur’an dengan persoalan kontemporer.
Perjalanan akademik Revo akhirnya membuahkan prestasi membanggakan. Predikat wisudawan terbaik menjadi bukti dari proses panjang yang telah dilaluinya. Bagi Revo, pencapaian tersebut bukan sekadar hasil akademik. Prestasi itu menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Prinsip yang terus dipegangnya sederhana, yaitu “Selesaikan apa yang telah dimulai.”
Prinsip tersebut menjadi penguat ketika menghadapi berbagai kesulitan selama menjalani perkuliahan. Ia memilih terus belajar dan memperbaiki kemampuan secara bertahap. Kini, kemampuan bahasa Arab yang diperolehnya menjadi bekal penting dalam perjalanan keilmuan. Ia dapat menjelajahi berbagai kitab tafsir untuk memperluas wawasan akademiknya.
Lebih jauh, Revo berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya. Ia mendorong mahasiswa untuk tetap menyelesaikan pendidikan meskipun menghadapi kondisi yang tidak ideal. Menurutnya, proses pendidikan membutuhkan kesungguhan, ketekunan, dan keberanian menghadapi keterbatasan. Dengan demikian, setiap tantangan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” menjadi pesan yang menggambarkan perjalanan akademik Revo.
Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa kerja keras dapat mengantarkan seseorang menemukan pengetahuan baru. Bagi Revo, perjalanan tersebut belum berakhir. Justru, predikat wisudawan terbaik menjadi awal untuk melanjutkan pengembangan keilmuan. Ia berharap ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, ia ingin terus mengembangkan kemampuan dalam kajian Al-Qur’an dan tafsir.
Dengan demikian, kisah Revo menjadi gambaran bahwa keberhasilan lahir dari proses yang konsisten. Keterbatasan dapat dihadapi selama seseorang memiliki kemauan untuk terus belajar dan menyelesaikan apa yang telah dimulai.
Bagikan: