MULTIPOLARITAS MENJADI LECUTAN BAGI GENERASI MUDA INDONESIA UNTUK BANGKIT

Opini 7 menit baca 37 kali dilihat
MULTIPOLARITAS MENJADI LECUTAN BAGI GENERASI MUDA INDONESIA UNTUK BANGKIT

Oleh: Dr. Pahmi.Sy, S.Ag., M.Si. (Wakil Rektor bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan)

Sebuah Refleksi Antropologis dari Kuliah Umum Gita Wirjawan di UIN STS Jambi

Membaca Perubahan Dunia

Kuliah umum Gita Wirjawan di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, hari Jum’at  30 Oktober 2026 bertempat di Auditorium yang diikuti lebih kurang 700 orang peserta baik Mahasiswa dan beberapa orang dosen se Jambi.. Kuliah umum yang digagas oleh Fak. Sain dan Teknologi UIN STS dan SKK Migas  Jambi telah memberikan ruang refleksi penting bagi generasi muda untuk membaca perubahan dunia dan mempersiapkan masa depan Indonesia. Salah satu isu strategis yang perlu menjadi perhatian adalah multipolaritas, yaitu perubahan tatanan dunia dari dominasi kekuatan tertentu menuju distribusi pengaruh diantara sejumlah negara dan pusat kekuatan global.

Perubahan ini bukan sekadar persoalan geopolitik, ekonomi, dan persaingan teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan generasi muda. Dalam dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, generasi muda Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, konsumen produk global, atau penonton kemajuan bangsa lain. Mereka harus mampu menjadi pencipta pengetahuan, inovator, pelaku perubahan, dan penentu masa depan bangsa.

Perspektif Antropologis: Perubahan Mentalitas dan Kebudayaan

Dalam perspektif antropologis, kebangkitan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusia, sistem nilai, karakter, dan kemampuan masyarakatnya beradaptasi terhadap perubahan. Kebudayaan bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.

Pemikiran Koentjaraningrat tentang sistem nilai budaya mengingatkan bahwa kemajuan masyarakat berkaitan dengan orientasi berpikir, etos kerja, tanggung jawab, dan cara manusia memandang masa depan. Sementara Clifford Geertz menjelaskan pentingnya sistem makna dalam memahami perilaku manusia dan kehidupan sosialnya.

Dari sudut pandang ini, tantangan generasi muda Indonesia bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membangun mentalitas baru. Mentalitas yang berani berkompetisi, terbuka terhadap perubahan, kreatif, produktif, disiplin, serta tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan Indonesia

Generasi muda harus berani keluar dari budaya ketergantungan menuju kemandirian, dari konsumtivisme menuju produktivitas, dan dari pola pikir sebagai pencari kerja menuju pencipta lapangan kerja.

Generasi Muda dan Tantangan Multipolaritas

Multipolaritas membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas kerja sama, membangun kekuatan ekonomi, mengembangkan teknologi, dan memperkuat posisi dalam pergaulan internasional. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila generasi mudanya memiliki kapasitas dan daya saing.

Ada tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi muda harus mampu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, riset, dan inovasi. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar teknologi dunia, tetapi harus mampu menjadi bagian dari bangsa yang menciptakan teknologi.

Kedua, penguatan karakter dan identitas kebangsaan. Keterbukaan global tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri. Pancasila, semangat gotong royong, toleransi, integritas, dan kearifan lokal harus menjadi fondasi dalam menghadapi persaingan dunia

Ketiga, membangun keberanian dan kepemimpinan. Generasi muda harus memiliki keberanian mengambil inisiatif, membangun jejaring internasional, mengembangkan kewirausahaan, dan melahirkan gagasan-gagasan baru untuk kemajuan masyarakat.

Kampus sebagai Ruang Kebangkitan Generasi

Dalam konteks UIN STS Jambi, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan generasi muda yang unggul secara intelektual, matang secara spiritual, kuat secara karakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Bangkit Menjadi Generasi Penentu Masa Depan

Multipolaritas harus menjadi lecutan kesadaran bagi generasi muda Indonesia untuk bangkit. Perubahan dunia tidak boleh membuat kita takut, tetapi harus mendorong lahirnya keberanian, kreativitas, dan kemampuan untuk mengambil peran dalam menentukan masa depan.

Sejarah membuktikan bahwa kebangkitan sebuah bangsa selalu membutuhkan generasi yang memiliki visi, ilmu pengetahuan, karakter, dan keberanian melakukan perubahan. Karena itu, generasi muda Indonesia harus mampu mengubah tantangan global menjadi peluang kemajuan

Jangan hanya menjadi generasi yang pandai membaca perubahan dunia, tetapi jadilah generasi yang mampu menciptakan perubahan bagi dunia.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak tercerabut dari akar budayanya, tidak tertinggal dalam penguasaan teknologi, dan tidak kehilangan arah dalam menghadapi persaingan global.

Dari UIN STS Jambi, mari membangun kesadaran bahwa masa depan Indonesia bukan sekadar warisan sejarah, melainkan tanggung jawab generasi hari ini. Multipolaritas adalah momentum, ilmu pengetahuan adalah kekuatan, kebudayaan adalah identitas, dan generasi muda adalah penentu kebangkitan Indonesia.

Bagikan:

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved.