Dari Kecelakaan Menuju Yudisium, Kisah Perjuangan Arip Menuntaskan Studi di UIN STS Jambi

Berita 4 menit baca 77 kali dilihat
Dari Kecelakaan Menuju Yudisium, Kisah Perjuangan Arip Menuntaskan Studi di UIN STS Jambi

JAMBI – Yudisium ke-27 Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menyimpan kisah inspiratif. Kegiatan berlangsung pada Kamis (13/8/2026) kemarin, di amphitheater wing B GCR. Salah satu lulusan yang mencuri perhatian adalah Arip, S.Si., dari Program Studi Ilmu Perpustakaan. Perjalanannya menjadi kisah tentang keteguhan, dukungan keluarga, dan lingkungan pendidikan yang inklusif.

Arip memulai perkuliahan dalam kondisi sehat seperti mahasiswa pada umumnya. Namun, perjalanan pendidikannya berubah setelah mengalami kecelakaan sepeda motor pada 2020. Saat itu, Arip ditabrak oleh sesama mahasiswa. Pengendara yang menabraknya tidak mengalami cedera serius dalam kecelakaan tersebut. Sebaliknya, Arip mengalami sejumlah cedera serius hingga kehilangan kesadaran. Ia bahkan mengalami koma selama sekitar 14 hari.

Selanjutnya, Arip menjalani perawatan di rumah sakit selama kurang lebih 40 hari. Setelah menjalani perawatan, kondisi fisiknya mengalami perubahan. Bagian kiri tubuh Arip, mulai kepala hingga kaki, mengalami kelemahan. Banyak orang kemudian mengira kondisi tersebut akibat patah tulang.

Namun, Arip menjelaskan bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan saraf. Kondisi itu merupakan dampak dari operasi pada bagian kiri kepalanya. Di tengah kondisi tersebut, Arip tetap memikirkan pendidikannya. Bahkan, kuliah menjadi hal pertama yang ia tanyakan setelah sadar. “Hal yang pertama saya tanyakan waktu itu adalah bagaimana kuliah saya,” kenangnya.

Perubahan kondisi tersebut tentu bukan perkara mudah bagi Arip. Ia harus beradaptasi dengan keterbatasan fisik yang sebelumnya tidak pernah dialaminya. Selain itu, ia juga harus memikirkan keberlanjutan pendidikan yang telah dimulainya. Namun, dukungan keluarga membuat Arip perlahan mampu bangkit.

Keluarga terus memberikan perawatan, semangat, dan pendampingan selama proses pemulihan. Mereka juga membantu berkomunikasi dengan pihak kampus mengenai kondisi Arip. Dukungan kemudian datang dari lingkungan UIN STS Jambi. Ketua program studi, sekretaris program studi, dekan, hingga pimpinan universitas memberikan perhatian.

Berbagai bentuk toleransi tersebut membantu Arip melanjutkan proses pendidikan. Dukungan itu sekaligus membuatnya merasa memiliki ruang untuk menyelesaikan studi. Arip menyadari bahwa kondisi fisiknya memiliki sejumlah keterbatasan. Namun, ia tidak ingin keterbatasan tersebut menghentikan perjuangannya. “Saya sadar dengan keadaan dan keterbatasan saya. . “Namun, saya tetap semangat dan ingin seperti yang lain,” ujar Arip

Menurut Arip, lingkungan kampus yang ramah menjadi salah satu kekuatan selama menjalani pendidikan. Ia merasa mendapatkan kesempatan untuk terus berkembang.

Selain itu, Pusat Gender, Anak dan Disabilitas (PGAD) UIN STS Jambi turut memberikan pendampingan. Pendampingan tersebut membantu Arip melewati proses pendidikan dengan lebih baik. Setelah melalui perjalanan panjang, Arip akhirnya memasuki tahap akhir penyelesaian studinya. Pada 17 Juni 2026, ia mengikuti sidang skripsi.

Sidang tersebut menjadi salah satu tahapan penting menuju penyelesaian pendidikan. Setelah itu, Arip melanjutkan proses akademik hingga mengikuti yudisium. Puncaknya terjadi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Arip dinyatakan lulus dengan IPK 3,25 dan predikat sangat memuaskan.

Bagi Arip, capaian tersebut bukan sekadar angka dalam dokumen akademik. Yudisium menjadi penanda perjalanan panjang sejak kecelakaan pada 2020. Perjalanan tersebut memperlihatkan ketekunan Arip dalam menghadapi perubahan besar dalam kehidupannya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan yang sempat dikhawatirkannya.

Karena itu, Arip menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung proses pendidikannya. Ia mengaku tidak mampu membalas seluruh kebaikan yang diterimanya. “Terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang telah memudahkan urusan saya,” tutur Arip. “Semoga Allah Yang Maha Kuasa membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu.”

Kisah Arip menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kemampuan akademik. Pendidikan juga berkaitan dengan ketekunan, keberanian, dukungan, dan kesempatan yang setara. Dalam konteks tersebut, lingkungan kampus memiliki peran penting dalam memastikan mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikannya. Terlebih, setiap mahasiswa memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda.

Perjalanan Arip juga memperlihatkan pentingnya dukungan keluarga dalam menghadapi situasi sulit. Dukungan tersebut menjadi energi bagi Arip untuk terus melangkah. Pada akhirnya, kecelakaan yang mengubah kehidupannya tidak menghentikan langkah Arip. Ia justru mampu menjadikannya bagian dari perjalanan menuju pencapaian.

Kini, Arip telah menyelesaikan pendidikan dengan predikat sangat memuaskan. Yudisium tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan. Sebaliknya, keterbatasan dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang dalam mencapai cita-cita. Kisah Arip sekaligus menjadi pesan tentang pentingnya kampus yang inklusif.

Melalui dukungan yang tepat, setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menyelesaikan pendidikan. Perjuangan Arip akhirnya sampai pada titik yang selama ini diperjuangkannya.

Tags:

Bagikan:

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved.