Dialog Publik Pengelolaan Sampah Kota Jambi, Rektor UIN STS Jambi Dorong Kolaborasi Semua Pihak
JAMBI – Persoalan sampah kembali menjadi perhatian berbagai kalangan di Kota Jambi. Karena itu, Pemerintah Kota Jambi menggelar Dialog Publik Pengelolaan Sampah di Aula Griya Mayang, Sabtu (13/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi terbuka yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Forum ini juga dirancang untuk menampung kritik, masukan, dan saran terhadap kebijakan pengelolaan sampah yang sedang berjalan.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari kalangan akademisi, profesor, media massa, tokoh masyarakat, hingga perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd hadir dalam forum ini. Kehadirannya menunjukkan dukungan perguruan tinggi terhadap upaya penyelesaian persoalan sampah di Kota Jambi. Dalam dialog itu, Kasful Anwar menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Menurutnya, persoalan tersebut merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Karena itu, ia mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. “Persoalan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kolaborasi menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Jambi, Dr. dr. Maulana, M.K.M., menjelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah yang selama ini diterapkan merupakan warisan konsep lama. Sistem tersebut dibangun ketika jumlah penduduk Kota Jambi masih sekitar 400 ribu jiwa pada 2006.
Menurut Maulana, kondisi Kota Jambi saat ini telah mengalami banyak perubahan. Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi membuat kebutuhan layanan kebersihan semakin meningkat.
Selain itu, perkembangan layanan antar makanan dan jasa pengiriman paket turut menambah volume sampah perkotaan. Oleh sebab itu, sistem lama dinilai perlu dievaluasi dan disesuaikan. “Pada masanya mungkin tepat. Tetapi sekarang kondisinya berbeda. Penduduk bertambah, aktivitas ekonomi meningkat, layanan antar makanan dan paket berkembang pesat. Sistem lama tentu harus dievaluasi,” kata Maulana.
Ia menegaskan bahwa perubahan kebijakan yang dilakukan bukan tanpa alasan. Langkah tersebut merupakan upaya pemerintah menyesuaikan sistem pengelolaan sampah dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Lebih lanjut, Maulana juga menjelaskan penggunaan becak motor atau bentor dalam pengangkutan sampah. Menurutnya, sarana tersebut bukanlah kebijakan baru.
Namun demikian, pemerintah melakukan perubahan pada konsep pengelolaannya. Bentor kini diarahkan untuk dimiliki dan dikelola langsung oleh masyarakat. “Bentor sudah lama ada. Yang saya ubah adalah konsepnya menjadi milik dan dikelola masyarakat. Ini gerakan moral bersama, bukan hanya tugas pemerintah,” tegasnya.
Di sisi lain, Ketua Forum RT turut memberikan penjelasan terkait iuran pengelolaan sampah. Ia menyampaikan bahwa besaran iuran ditetapkan melalui musyawarah dan kesepakatan antara pengurus RT dan warga.
Pandangan kritis juga disampaikan Rektor Universitas Jambi, Prof. Helmi. Ia mengemukakan sejumlah catatan terkait implementasi program pengelolaan sampah yang tengah dijalankan.
Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain mekanisme penetapan tarif layanan dan solusi bagi masyarakat yang kesulitan membayar iuran. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga pembahasan persoalan sampah tetap berada pada koridor kepentingan publik.
Menurutnya, forum semacam ini harus menjadi ruang dialog yang objektif dan bebas dari kepentingan politik praktis. Dengan demikian, setiap kebijakan yang lahir benar-benar berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Melalui dialog publik tersebut, berbagai pihak berharap muncul rekomendasi yang konstruktif dan aplikatif. Rekomendasi itu nantinya dapat menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota Jambi.
Dengan keterlibatan masyarakat, akademisi, dan pemerintah, sistem pengelolaan sampah diharapkan semakin efektif. Selain itu, tata kelola yang partisipatif dan berkelanjutan juga dapat diwujudkan demi menciptakan Kota Jambi yang lebih bersih dan nyaman.