Padukan 4 Pilar Pembelajaran, Lahirkan Inovasi dan Dampak Nyata di Perguruan Tinggi
*Oleh: Dr. Kemas Imron Rosyadi, M.Pd*
Penyelenggaraan Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) di UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi menunjukkan keseriusan perguruan tinggi dalam membangun kualitas sumber daya manusia akademik. Program ini tidak hanya menjadi ruang pelatihan bagi dosen pemula, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali praktik pembelajaran yang selama ini berlangsung di perguruan tinggi.
Kehadiran dosen-dosen muda dari UIN STS Jambi maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) di bawah Kopertais Wilayah XIII Jambi mencerminkan adanya kesadaran bersama bahwa kualitas pendidikan tinggi sangat bergantung pada kualitas pengajarnya. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, dosen tidak lagi cukup hanya menguasai materi perkuliahan. Mereka dituntut mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, menarik, dan berdampak bagi mahasiswa.
Pandangan yang disampaikan Dr. H. Kemas Imron Rosadi, M.Pd mengenai model, pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran menjadi sangat penting untuk dicermati. Selama ini, masih terdapat praktik pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai penerima informasi semata. Akibatnya, ruang kelas sering kehilangan daya hidup dan gagal mendorong lahirnya kreativitas serta kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, gagasan tentang pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Mahasiswa harus diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, meneliti, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya. Peran dosen bukan lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang mengarahkan proses pembelajaran agar lebih bermakna.
Dosen muda memiliki keunggulan tersendiri dalam mewujudkan transformasi tersebut. Kedekatan usia dan pemahaman terhadap perkembangan teknologi memungkinkan mereka lebih mudah membangun komunikasi dengan mahasiswa. Energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi menjadi modal penting untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan inovatif.
Namun, perubahan metode mengajar tidak boleh berhenti pada aspek teknis semata. Yang lebih penting adalah bagaimana proses pembelajaran mampu menghasilkan dampak nyata. Perguruan tinggi tidak cukup hanya meluluskan mahasiswa dengan nilai akademik yang baik. Kampus harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan menyelesaikan persoalan di masyarakat, berkontribusi dalam dunia kerja, serta menghadirkan inovasi yang bermanfaat.
Dalam konteks tersebut, penekanan pada keterbaharuan atau novelty sebagaimana disampaikan Dr. Kemas Imron menjadi sangat relevan. Setiap mata kuliah seharusnya mendorong mahasiswa menghasilkan gagasan baru, karya inovatif, atau solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi memberi manfaat yang lebih luas.
PKDP pada akhirnya bukan sekadar agenda rutin peningkatan kapasitas dosen. Program ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan tinggi keagamaan Islam. Jika nilai-nilai yang disampaikan dalam kegiatan tersebut benar-benar diterapkan, maka dosen pemula dapat menjadi agen perubahan yang memperkuat mutu akademik, meningkatkan daya saing lulusan, dan membawa pendidikan tinggi Islam di Jambi menuju kualitas yang lebih unggul.
*Penulis adalah: Wakil Dekan III FEBI UIN STS Jambi