OBE di PTKI: Jangan Cuma Ganti Baju RPS

Berita 5 menit baca 32 kali dilihat
OBE di PTKI: Jangan Cuma Ganti Baju RPS
Oleh: Budi Sanjaya, M.Ed, Ph.D*

Tiga huruf “OBE” kini jadi mantra di ruang dosen tarbiyah. Outcome-Based Education. RPS kita mendadak tebal. Ada CPL, CPMK, Sub-CPMK, sampai rubrik warna-warni. Semua demi satu tujuan: lulusan yang jelas capaian dan arahnya.

Niatnya mulia. Tapi dalam perbjncangan dosen, banyak yang berbisik: “Ini hanya ganti baju saja. Kelas tetap ceramah 14 minggu, mahasiswa tetap hafalan qawaid, UAS tetap terjemah.” Kalau OBE di PT Keagamaan Islam cuma berhenti jadi urusan format, kita rugi dua kali. Dapat capeknya administrasi, tapi kehilangan ruh ta’dib yang jadi napas Fakultas Tarbiyah.

  1. Lulusan PBA Itu Bukan Cuma Fasih Nahwu, Tapi Beradab Mengajar

OBE ngajak kita mikir dari akhir: “Mahasiswa PBA lulus mau jadi mu’allim seperti apa?” Di kampus teknik, jawabannya mungkin “engineer siap kerja”. Di Prodi PBA, tidak cukup. Tugas kita melahirkan guru bahasa Arab yang bukan cuma paham Jurumiyyah, tapi juga paham psikologi anak didij dan adab ta’lim muta’allim.

Sayangnya, banyak RPS OBE PBA masih mentok di “mampu menyebutkan 20 fi’il”, “mampu i’rab kalimat”. Itu kognitif semua. Lupa menuliskan “mampu menjelaskan makna ‘kebersihan sebagian dari iman’ kepada siswa dengan bahasa Arab fushah sederhana”, atau “mampu menenangkan santri yang takut salah bicara Arab dengan hikmah”.

Padahal itu outcome utama kita. Dan itu nggak bisa diukur pakai UTS i’rab 100 soal. Butuh video micro-teaching, jurnal refleksi “salahku hari ini saat ngajar”, sampai testimoni guru pamong di madrasah.

PULL QUOTE
“Perangkatnya boleh OBE, aplikasinya boleh BAN-PT. Tapi jiwanya harus tetap ta’dib: membentuk adab guru sebelum mengisi otaknya dengan qawaid. Karena di Prodi PBA, kita tidak sedang mencetak penerjemah. Kita sedang merawat amanah untuk membentuk mu’addib.”

Kalau adab mengajar dan keberanian berkomunikasi tidak ditulis di CPL Prodi PBA, ia tidak akan dilatih. Kalau tidak dilatih, jangan harap lulusan kita berani berbahasa Arab di depan kelas. Akhirnya kita cetak sarjana PBA yang jago teori, tapi gagu saat disuruh ngajar muhadatsah.

  1. Jangan Samakan “Pasar” Lulusan PBA dengan Pabrik

OBE lahir dari industri. Wajar orientasinya employability di pabrik. Tapi “pasar” lulusan Pendidikan Bahasa Arab beda. Alumni kita tidak semua jadi dosen. Ada yang jadi guru MTs/MA, pengajar TPQ, penyusun modul di pesantren, content creator “Nahwu 60 Detik”, editor buku anak dwibahasa, sampai penerjemah turats.

Kalau CPL PBA copy-paste dari prodi umum, kita cetak guru bahasa Arab yang kaku. Hafal Alfiyah, tapi bingung saat diminta bikin game mufrodat untuk anak SD. Fasih i’rab, tapi kering saat ceramah bahasa Arab di pengajian ibu-ibu.

Jadi, sebelum dosen PBA menuliskan CPMK, wajib “turun gunung”. Tanya ke 1 guru senior MTs + 1 kepala TPQ + 1 alumni yang jadi influencer dakwah: “Butuh guru bahasa Arab yang kayak gimana 5 tahun lagi?” Jawaban mereka riil: “Yang sabar ngadepin santri bandel”, “Yang nggak bikin anak trauma sama nahwu”, “Yang bisa bikin konten Arab tapi tetap syar’i”.

Dari jawaban itulah CPMK disusun. Bukan sebaliknya.

  1. Ayat Bukan Stiker Tempelan di RPS PBA

Jebakan di Prodi PBA: biar kelihatan integratif, tiap CPMK ditempeli ayat. RPS Istima’: Capaian: Mahasiswa mampu menyimak berita Arab. QS Al-‘Alaq: 1.

Ini kosmetik. Integrasi yang jujur itu nanya: “Nilai tarbawi apa yang jadi nyawa MK Istima’ ini?” Outcome-nya bisa naik kelas: “Mahasiswa mampu menyimak dan mencari berita berbahasa Arab tentang Palestina dengan empati dan sikap kritis sebagai wujud tadabbur atas penderitaan umat”. Tugasnya? Bukan cuma jawab soal, tapi buat podcast 3 menit berbahasa Arab merespons berita itu. Di situ empati jadi bagian dari penilaian.

Sama halnya pada MK Qawaid. Jangan cuma “mampu i’rab”. Jadikan outcome-nya: “Mampu menggunakan qawaid untuk menyusun instruksi kelas yang santun dan tidak menyakiti: ‘Tafadhdhal, ya akhi’, bukan ‘Uskut!’”.

  1. Dosen PBA Juga Manusia, Bukan Admin RPS

Keluhan paling nyata: “OBE bikin dosen jadi admin.”Menbuat peta CPL-CPMK, susun rubrik, hitung ketercapaian. Akhirnya RPS keren, tapi kelas maharah kalam tetap mahasiswa baca teks dan dosen mengoreksi.

Solusinya: less is more. Untuk MK 3 SKS, cukup 2-3 CPMK esensial, tapi asesmennya otentik. Daripada 4 kuis mufrodat + UTS + UAS tulis, lebih baik 1 proyek: “Ustaz/Ustazah Sehari”.

Mahasiswa PBA diminta mengajar 1 pertemuan di TPQ/MD binaan tema “Adab Makan”. Satu tugas itu kena semua: kognitif dia riset kosakata dan dalil, afektif dia sabar ngadepin santri, psikomotorik dia public speaking Arab. Dosen hemat tenaga koreksi, mahasiswa dapat pengalaman, TPQ dapat guru muda.

OBE di Fakultas Tarbiyah harus jadi ijtihad kurikulum, bukan sekadar format akreditasi LAMDIK. Kalau cuma menuruti template, kita dapat nilai. Tapi kalau jujur pada jati diri, kita dapat lulusan yang benar-benar mu’allim pembawa rahmat, bukan sekadar mesin i’rab berjalan.


[BOX] TIPS CEPAT OBE ANTI-RIBET UNTUK DOSEN PBA

  1. Mulai dari Madrasah, Bukan dari Aplikasi
    Sebelum buka template, hubungi 1 guru MTs + 1 kepala TPQ. Tanya: “Lulusan PBA kami kurangnya di mana saat ngajar?” Itu bahan CPMK paling jujur.
  2. Gunakan Prinsip 2-3-1 untuk 3 SKS
    Cukup rumuskan 2 CPMK inti: 1 kalam/kitabah, 1 adab tadris. Alokasikan 3 minggu untuk 1 proyek ngajar. Gunakan 1 asesmen otentik: video mengajar + refleksi.
  3. Timbang Adab Tadris 40%
    Di PBA, adab guru itu outcome utama. Pastikan kesabaran, tawadhu, apresiatif, dan kejujuran saat salah minimal 40% dari total nilai. Pakai jurnal refleksi & testimoni guru pamong.
  4. Ganti UAS Tulis dengan “Ujian Aksi Mengajar”
    UAS Istima’? Minta mahasiswa jadi MC acara wisuda TPQ full berbahasa Arab. UAS Balaghah? Tugaskan mahasiswa membuat dan sampaikan kultum 7 menit. Nilai dari aksi lebih mewakili outcome PBA.
  5. Tes RPS Pakai “Tes Dosen Baru”
    Sebelum klik “Simpan”, tanya: “Kalau RPS ini saya berikan ke dosen CPNS baru, dia ngerti atau tidak untuk membentuk guru PBA seperti apa?” Kalau jawabannya “masih bingung”, berarti RPS-mu masih kebanyakan output qawaid, kurang outcome adab.

*Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.