PENYAKIT FLEXING: KETIKA PADI KOSONG TERLALU BERISIK DI ERA DIGITAL
Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd (Guru Besar UIN STS Jambi – Datuk Rio Tanum Cendikio Agama)
Kemarin saya buka Instagram sambil ngopi. Lewat satu postingan: “Alhamdulillah capek banget jadi pembicara di 3 negara minggu ini”. Lima menit kemudian muncul lagi foto jam tangan mewah dengan caption “biar kerja keras ada hasilnya”. Saya senyum. Itu namanya flexing. Dan sekarang penyakit ini sudah jadi epidemi.
Secara psikologi, flexing adalah perilaku pamer berlebihan untuk menutup rasa kurang di dalam diri. Alfred Adler menyebutnya “overcompensation” Luka “inferiority complex” diobati dengan superioritas semu. Semakin dalam lukanya, semakin keras pamernya. Pamer harta, jabatan, gelar, keturunan, bahkan pamer “saya paling rendah hati”. Semua muaranya sama: haus validasi.
Tapi orang Melayu sudah lebih dulu memetakan penyakit ini jauh sebelum Instagram lahir. Dalam Adat Besendi Syarak, kami menyebutnya “penyakit meninggi” atau perumpamaan “katak hendak jadi lembu”. Hukumnya sederhana dan tajam: wadah kosong itu bunyinya nyaring. Padi berisi justru merunduk. Padi hampa yang tegak ke langit, padi berisi yang menunduk ke bumi.
Lalu kenapa sekarang jadi ganas? Karena ada dua steroid: globalisasi dan digitalisasi. Globalisasi membentuk “rezim sukses tunggal”. Kaya diukur dari mobil mewah. Bahagia diukur dari foto liburan Maldives. Pintar diukur dari gelar luar negeri. Padahal falsafah Melayu mengajarkan “hidup biar lambat asal selamat” dan “cukup itu kaya”. Penggarisnya ketukar. Kita diukur pakai standar orang lain.
Digitalisasi memperparah segalanya. Algoritma Instagram, TikTok, LinkedIn sengaja dirancang memicu candu. Like, komen, share jadi dopamin. Penelitian di jurnal Psychological Science 2017 membuktikan: semakin lama waktu layar, semakin tinggi kecemasan dan depresi. Kita kira sedang memakai HP. Padahal HP yang sedang memakai kita. Satu kampung berubah jadi panggung 24 jam. Semua orang jadi aktor. Capek, tapi takut berhenti. Takut ketinggalan. Takut tidak dilirik.
Untungnya nenek moyang Melayu sudah menyiapkan obatnya sejak dulu. “Bagai padi, makin berisi makin merunduk”. Ini psikoterapi gratis. Ilmu banyak kian merunduk, bukan meninggi. Malu kita kalau ilmu setinggi langit tapi akhlak serendah tanah. Ada juga “air tenang menghanyutkan”. Orang berwibawa tidak berisik. Karya dan akhlaknya yang berbicara. Tidak perlu caption panjang untuk membuktikan hebat. Orang cerdas akan melihat sendiri.
Adat Melayu juga memerintahkan “tepuk dada, tanya selero”. Sebelum jari mengetik status, tanya dulu ke hati: niatnya apa? Mau bagi manfaat atau mau minta dipuji? Kalau jawabannya “biar dibilang keren”, maka diam lebih mulia daripada bicara. Kebenaran tidak butuh volume tinggi.
Kunci penyembuhannya adalah tawadhu’. Adat Melayu berdiri di atas prinsip “Adat Besendi Syarak, Syarak Besendi Kitabullah”. Rasulullah SAW teladan tertinggi. Beliau Sayyidul Mursalin, pemimpin seluruh umat. Tapi dalam hadits Shahih Bukhari diceritakan beliau tetap menambal sandalnya sendiri, mengangkat ujung bajunya sendiri. Wibawa beliau tidak lahir dari pamer. Lahir dari kedalaman dan kelembutan hati.
Pepatah Melayu “bulek kato dek mufakat, bulek aie dek pembuluh” mengajarkan hal yang sama. Kata bulat karena musyawarah, air bulat karena wadah. Artinya kuat tapi lentur, berprinsip tapi beradab. Tidak menusuk, tapi meresap. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 264 juga mengingatkan: sedekah yang diiringi menyebut-nyebut itu pahalanya hangus. Prinsip yang sama berlaku untuk ilmu dan karya.
Flexing tidak akan mati selama manusia punya ego. Tapi ia bisa dijinakkan. Caranya bukan “stop posting”, melainkan “isi diri dulu sebelum menampilkan diri”. Lihat Rumah Adat Melayu. Ia tidak pernah berteriak “aku rumah adat”. Ia kokoh karena tiangnya dalam, ukirannya bermakna. Orang datang sendiri, kagum sendiri.
Mari kita latihan menjadi “padi berisi”. Biar dunia digital ribut, kita tetap merunduk. Karena hukum semesta dan Adat Melayu sama: yang meninggi akan direndahkan, yang merendah akan ditinggikan. Itu sunnatullah. Tidak pernah meleset.
Wallahu a’lam bishawab,-