Prof. D.I. Ansusa Putra Soroti Penguatan Jaringan Ulama Indonesia–Sudan pada Seminar Internasional

Berita 5 menit baca 18 kali dilihat
Prof. D.I. Ansusa Putra Soroti Penguatan Jaringan Ulama Indonesia–Sudan pada Seminar Internasional

JAMBI – Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menyelenggarakan Seminar Internasional sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Islamic University of Africa (IUA) Sudan. Kegiatan yang berlangsung di Amphitheatre lantai 4 UIN STS Jambi ini mengangkat tema “Kerja Sama Akademik di Dunia Islam: Peluang dan Tantangan antara Sudan dan Indonesia.”

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah akademisi terkemuka dari Indonesia dan Sudan, di antaranya Prof. Dr. D.I. Ansusa Putra, Lc., M.A. Hum., Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN STS Jambi, Prof. Dr. Kasful Anwar, M.Ag., Rektor UIN STS Jambi, serta Prof. Abu Bakar Hassan Ali Baikhit dari Islamic University of Africa Sudan. Kegiatan dipandu oleh Dr. H. Izzat Muhammad Daud, Lc., M.A. sebagai moderator.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. D.I. Ansusa Putra menyampaikan materi bertajuk “Syabakah al-‘Ulama fi al-‘Alam al-Islami: Bayna al-Tarikh wa al-Waqi’ wa al-Mustaqbal” (Jejaring Ulama di Dunia Islam: Antara Sejarah, Realitas, dan Masa Depan). Materi ini menyoroti pentingnya jaringan keilmuan Islam sebagai fondasi peradaban yang telah menghubungkan para ulama, pelajar, dan institusi pendidikan Islam lintas wilayah selama berabad-abad.

Jejaring Ulama sebagai Pilar Peradaban Islam

Menurut Prof. D.I. Ansusa, perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam tidak dapat dilepaskan dari tradisi mobilitas intelektual para ulama. Sejak masa klasik, para penuntut ilmu melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyyah) dari satu wilayah ke wilayah lain untuk belajar, mengajar, dan memperoleh sanad keilmuan. Masjid, madrasah, universitas, serta karya-karya manuskrip menjadi sarana utama dalam penyebaran ilmu dan pembentukan jaringan intelektual Islam global.

Beliau menjelaskan bahwa konsep jejaring ulama telah banyak dikaji oleh sejarawan Muslim kontemporer, termasuk Prof. Azyumardi Azra. Dalam perspektif tersebut, jaringan ulama dipahami sebagai sistem hubungan ilmiah, spiritual, dan intelektual yang menghubungkan para ulama, santri, serta lembaga pendidikan Islam di berbagai kawasan dunia Islam. Jaringan ini tidak hanya melampaui batas geografis, tetapi juga membentuk peta peradaban Islam yang berlandaskan pertukaran ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan.

Haramain sebagai Pusat Pertemuan Keilmuan Dunia Islam

Dalam paparannya, Prof. Ansusa menekankan bahwa Makkah dan Madinah memiliki posisi sentral dalam sejarah jejaring ulama dunia Islam. Kedua kota suci tersebut menjadi titik temu para ulama dari berbagai wilayah, termasuk Afrika dan Nusantara. Melalui halaqah-halaqah ilmiah yang berlangsung di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, para ulama bertukar gagasan, memperdalam disiplin ilmu keislaman, serta membangun hubungan akademik yang berkelanjutan.

Hubungan keilmuan antara Sudan dan Nusantara, menurut beliau, memiliki akar sejarah yang kuat. Sejak abad pertengahan, para ulama dari kedua kawasan bertemu dalam jaringan keilmuan yang sama di Haramain dan Al-Azhar. Pertemuan tersebut melahirkan transfer ilmu, penyebaran mazhab fikih, penguatan tradisi tasawuf, dan pembentukan identitas Islam yang bersifat lintas bangsa.

Syekh Ahmad Surkati: Simbol Hubungan Intelektual Sudan–Indonesia
Sebagai contoh konkret hubungan intelektual antara Sudan dan Indonesia, Prof. Ansusa mengangkat sosok Syekh Ahmad Surkati (1875–1943). Ulama asal Sudan tersebut datang ke Indonesia pada awal abad ke-20 dan menjadi salah satu tokoh pembaharu pendidikan Islam melalui pendirian organisasi Al-Irsyad. Kontribusinya tidak hanya terlihat dalam reformasi pendidikan Islam modern, tetapi juga dalam pembentukan jaringan ulama dan murid yang berpengaruh hingga saat ini.

Menurut Prof. Ansusa, figur Surkati menunjukkan bahwa hubungan akademik antara Sudan dan Indonesia bukanlah fenomena baru, melainkan kelanjutan dari tradisi intelektual Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Peluang Kerja Sama Akademik Kontemporer

Memasuki era globalisasi dan transformasi digital, Prof. Ansusa melihat adanya peluang besar untuk menghidupkan kembali jejaring ulama dalam bentuk kerja sama akademik modern. Beberapa langkah strategis yang ditawarkan antara lain pengembangan riset bersama dalam bidang studi Islam, sejarah, dan peradaban; penyelenggaraan konferensi internasional secara berkala; serta penerbitan jurnal ilmiah bersama yang bereputasi internasional.

Selain itu, beliau juga mendorong penguatan program pertukaran mahasiswa dan dosen, pembimbingan bersama program magister dan doktoral, serta pengembangan program gelar bersama (joint degree). Transformasi digital melalui pembangunan perpustakaan elektronik bersama, digitalisasi manuskrip Islam, dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam penelitian keislaman juga menjadi bagian dari agenda yang ditawarkan.

Tantangan yang Perlu Diatasi
Meski peluang kerja sama sangat terbuka, Prof. Ansusa mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan pendanaan penelitian, kesenjangan infrastruktur akademik, rendahnya publikasi internasional dari perguruan tinggi Islam, dominasi pusat-pusat pengetahuan Barat dalam basis data ilmiah global, serta masih lemahnya kolaborasi lintas negara di antara institusi pendidikan Islam.

Karena itu, diperlukan komitmen kelembagaan yang kuat agar kerja sama yang dibangun tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mampu menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

Menuju Kemitraan Strategis Sudan–Indonesia

Dalam sesi penutup, Prof. Ansusa menegaskan bahwa Sudan dan Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk membangun kemitraan akademik strategis. Kesamaan warisan peradaban Islam, keberagaman budaya, tradisi moderasi beragama, serta perhatian besar terhadap pendidikan Islam menjadi fondasi penting bagi penguatan jejaring ilmiah kedua negara.

Beliau mengusulkan pembentukan pusat studi bersama tentang jaringan ulama Islam, pengembangan basis data ilmuwan dan manuskrip Islam Afrika–Asia Tenggara, penyelenggaraan konferensi tahunan secara bergiliran, penerbitan jurnal internasional multibahasa, serta pembukaan program pascasarjana bersama sebagai langkah konkret memperkuat kolaborasi akademik.

Mengakhiri paparannya, Prof. D.I. Ansusa Putra menegaskan bahwa masa depan dunia Islam sangat bergantung pada kekuatan jejaring ilmu pengetahuan dan kolaborasi akademik antarnegara. Penandatanganan MoU antara UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan Islamic University of Africa Sudan diharapkan menjadi titik awal lahirnya model kerja sama akademik Islam yang mampu menghubungkan Afrika dan Asia Tenggara serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat dan peradaban dunia Islam.

“Masa depan dunia Islam bergantung pada kekuatan jaringan ilmu dan pengetahuan yang mampu menghubungkan para ulama, akademisi, dan institusi pendidikan lintas negara demi kemajuan peradaban Islam yang berkelanjutan.”

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.