Prof. Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama IAMI, Rektor UIN STS Jambi: Kepercayaan Besar untuk Indonesia

Berita 5 menit baca 275 kali dilihat
Prof. Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama IAMI, Rektor UIN STS Jambi: Kepercayaan Besar untuk Indonesia

JAMBI – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., menyambut baik terpilihnya Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sebagai Presiden pertama The International Assembly of Mosque Imams (IAMI).

Rektor menilai kepercayaan yang diberikan kepada Prof. Nasaruddin Umar merupakan sebuah kehormatan sekaligus momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat kontribusi dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian dunia.

“Kami keluarga besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi turut bangga dan sangat mengapresiasi setinggi-tingginya, sekaligus menyampaikan selamat atas terpilihnya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. sebagai Presiden pertama IAMI. Ini merupakan amanah besar dan sekaligus kepercayaan masyarakat internasional kepada Indonesia melalui sosok beliau,” ujar Prof. Kasful Anwar.

Menurut Rektor, terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar tidak hanya memiliki arti penting bagi dunia kemasjidan, tetapi juga memperlihatkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam percakapan global mengenai Islam, perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan.

IAMI dibentuk melalui International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 25–27 September 2026. Forum tersebut mempertemukan para imam besar dan pemimpin keagamaan dari berbagai negara untuk membahas penguatan peran masjid dalam menghadapi persoalan kemanusiaan, konflik, lingkungan, perkembangan teknologi, serta tantangan sosial global.

Rektor mengatakan, kepemimpinan Prof. Nasaruddin Umar di IAMI dapat menjadi momentum untuk semakin memperkenalkan pengalaman keberagamaan Indonesia kepada masyarakat internasional. “Indonesia memiliki pengalaman yang sangat kaya dalam mengelola kehidupan masyarakat yang majemuk. Islam Indonesia yang moderat, ramah, inklusif dan mengedepankan dialog merupakan modal penting untuk ikut membangun perdamaian dunia. Saya kira pengalaman ini dapat menjadi kontribusi besar Indonesia melalui kepemimpinan Prof. Nasaruddin Umar di IAMI,” katanya.

Lebih jauh, Rektor menilai pembentukan IAMI memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kebutuhan umat Islam saat ini. Menurutnya, masjid tidak cukup hanya diposisikan sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga perlu dikembangkan sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dialog, solidaritas sosial, dan penguatan peradaban.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang mengemuka dalam IGIC 2026, yang mendorong masjid menjadi ruang aman untuk membicarakan berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk konflik, persoalan lingkungan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta isu sosial lainnya. “Masjid harus mampu hadir di tengah persoalan masyarakat. Masjid bukan hanya tempat umat datang untuk beribadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan karakter, penyelesaian persoalan sosial, dan membangun perdamaian,” jelasnya.

Rektor mengatakan, para imam memiliki posisi strategis karena tidak hanya menjadi pemimpin dalam pelaksanaan ibadah, tetapi juga memiliki kedekatan sosial dan moral dengan masyarakat. Karena itu, menurut Rektor, IAMI dapat menjadi ruang strategis bagi para imam dunia untuk bertukar pengalaman, memperkuat kerja sama, membangun dialog lintas agama dan budaya, serta bersama-sama menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.

Di samping itu, Rektor juga melihat keberadaan IAMI sebagai bagian penting dari penguatan diplomasi keagamaan (religious diplomacy) Indonesia di tingkat internasional. “Ketika para imam dari berbagai negara dapat duduk bersama, berdialog dan membangun kerja sama, saya kira ini akan menjadi kekuatan moral yang sangat besar bagi terciptanya perdamaian. Diplomasi keagamaan dapat menjadi jembatan ketika masyarakat dunia menghadapi berbagai perbedaan dan konflik,” ungkapnya.

Rektor berharap IAMI dapat berkembang menjadi wadah internasional yang mampu memperkuat persaudaraan antarmanusia dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan universal. Menurutnya, tantangan dunia saat ini tidak hanya berkaitan dengan konflik bersenjata, tetapi juga mencakup intoleransi, polarisasi sosial, kemiskinan, persoalan lingkungan, perkembangan teknologi digital, misinformasi, serta berbagai persoalan kemanusiaan lainnya. IAMI diharapkan dapat mengambil bagian dalam merespons tantangan tersebut melalui perspektif keagamaan yang damai dan konstruktif.

Peluang Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Islam

Rektor juga menilai terbentuknya IAMI membuka ruang kolaborasi yang luas dengan perguruan tinggi keagamaan Islam, termasuk UIN STS Jambi. Perguruan tinggi, kata Rektor, dapat berkontribusi melalui riset, pendidikan, pengembangan pemikiran keislaman, penguatan kapasitas sumber daya manusia, kajian moderasi beragama, hingga pengembangan model pemberdayaan masyarakat berbasis masjid.

“Kami melihat ada ruang kolaborasi yang sangat luas antara IAMI dan perguruan tinggi Islam. Kampus dapat memberikan kontribusi melalui penelitian, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan berbagai kajian yang berkaitan dengan masjid, masyarakat, moderasi beragama, perdamaian, dan pembangunan peradaban,” ujarnya.

Hal tersebut juga sejalan dengan arah pengembangan UIN STS Jambi yang terus mendorong transformasi pendidikan tinggi Islam, penguatan moderasi, serta kontribusi perguruan tinggi terhadap persoalan masyarakat. Profil resmi UIN STS Jambi mencatat bahwa kepemimpinan Prof. Kasful Anwar antara lain berorientasi pada transformasi, moderasi, digitalisasi, green campus, kampus inklusi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Prof. Kasful Anwar berharap kepemimpinan Prof. Nasaruddin Umar mampu membawa IAMI menjadi organisasi internasional yang memberikan manfaat nyata bagi umat manusia. “Kami mendoakan semoga Prof. Nasaruddin Umar diberikan kesehatan, kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan amanah ini. Semoga IAMI dapat menjadi jembatan yang mempertemukan para imam dunia, memperkuat persaudaraan kemanusiaan, dan bersama-sama menghadirkan perdamaian serta kemaslahatan bagi masyarakat dunia,” pungkasnya.

Sebagai Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dan telah menjabat sebagai Menteri Agama sejak dilantik pada 21 Oktober 2024. Pembentukan IAMI dan terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar sebagai presiden pertamanya menjadi salah satu hasil penting IGIC 2026 yang berlangsung di Jakarta. Forum tersebut juga menghasilkan Jakarta Understanding, yang antara lain memuat penguatan peran imam dalam perdamaian, perlindungan kelompok rentan, diplomasi keagamaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan kerja sama global. (*)

Bagikan:

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved.