Rektor Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Prof. Dr. As’ad, M.Pd selaku Ketua Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi secara resmi membuka acara Gembira Beragama yang dilaksanakan oleh BNPT-FKPT Provinsi Jambi di Aula Amphiteater Lantai 4 GCR UIN STS Jambi, Kamis.
Pembukaan kegiatan ini diawali dengan sambutan hangat dari Maira Khimadani, S.T., M.Sc selaku Sub Kordinator Partisipasi Masyarakat. Adapun tema kegiatan adalah Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme Melalui Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme ( FKPT ) Jambi.
Rektor yang sekaligus Ketua FKPT Provinsi Jambi, Prof. Dr. As’ad., M. Pd., saat menyampaikan sambutan menegaskan pentingnya peran FKPT ini menjadi forum kontra radikalisasi, deradikalisasi, dan terorisme.
Oleh sebab itu, kata dia, dari kegiatan yang diadakan di UIN STS Jambi bertujuan untuk mencegah paham radikalisme yang merupakan salah satu upaya mencegah dan menangkal (cekal) radikalisme dan terorisme di Provinsi Jambi.

“Dosen dan tenaga pendidik memiliki fungsi, salah satunya mentransformasikan, mengembangkan serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan serta teknologi dan juga seni melalui pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat maka perlu menangkal radikalisme di dunia pendidikan,” ungkap Prof. As’ad, M.Pd.
Untuk melakukan pencegahan secara dini, katanya, perlu melibatkan seluruh stakeholder sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Oleh karena itulah kegiatan Gembira Beragama perlu melibatkan banyak elemen masyarakat termasuk para tokoh agama.
“Kenapa acara ini dihadiri oleh berbagai lintas agama karena acara ini judulnya Bangga dan Gembira Beragama, dan FKPT Jambi harus sanggup mensosialisasikan kepada seluruh umat beragama, karena gerakan radikal terorisme tidak mengenal agama, jadi semua agama memiliki potensi yang sama,” ungkapnya.
Sementara itu, Maira Khimadani, S.T., M.Sc dalam sambutannya mengingatkan pentingnya antisipasi dini terhadap ancaman radikalisme-terorisme di wilayahnya. Provinsi Jambi dengan segala potensi dan pintu masuknya, menjadi target empuk bagi kelompok radikal untuk membangun basis operasi, yang berpotensi memicu konflik internal yang merugikan. (*)