JAKARTA — Semangat internasionalisasi kini mulai gencar ditengah Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Prof. Sahiron, menegaskan bahwa seluruh PTKIN harus memperkuat konsolidasi guna menyongsong agenda besar: menjadikan Indonesia sebagai pusat studi Islam dunia.

Dalam rapat koordinasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN di Jakarta, Prof. Sahiron memberikan apresiasi tinggi kepada para rektor dan tim tata kelola yang telah bekerja keras. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan bukan lagi sekadar skala nasional, melainkan rekognisi global.
Internasionalisasi pendidikan tinggi kini bukan lagi sekadar opsi, melainkan mandat langsung dari Presiden RI. Pemerintah menargetkan Indonesia mampu menarik hingga 100.000 mahasiswa asing secara nasional.
“Saat ini, mahasiswa asing di lingkungan PTKIN tercatat sekitar 1.200 orang. Kita ingin angka ini terus melompat melalui sinergi antara Kementerian Agama, Kemendiktisaintek, dan Kementerian Keuangan,” ujar Prof. Sahiron.
Untuk mendukung ambisi tersebut, pemerintah tengah menggodok skema beasiswa prestisius. Konsepnya tidak main-main, yakni mengadopsi kesuksesan lembaga internasional seperti DAAD (Jerman), AMINEF (Amerika Serikat), dan British Council (Inggris).
Internasionalisasi PTKIN, UIN Jambi Aktif Jalin Kerja Sama dengan Berbagai Negara
Rektor, Prof. Kasful Anwar turut menegaskan komitmen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dalam mendukung agenda internasionalisasi pendidikan tinggi Islam. Menurutnya, UIN Jambi saat ini terus memperkuat kerja sama internasional. Hal ini guna meningkatkan jumlah mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di kampus tersebut.
Prof. Kasful Anwar menyebutkan, semangat internasionalisasi di UIN Jambi semakin terlihat melalui langkah aktif Pusat Layanan Kerja Sama Internasional (PLKI) yang saat ini terus melakukan koordinasi dan kunjungan ke berbagai kedutaan negara sahabat. Upaya tersebut dilakukan untuk membuka peluang kerja sama akademik, pertukaran mahasiswa, hingga promosi UIN Jambi di tingkat global.
“UIN Jambi terus bergerak memperkuat jejaring internasional. Saat ini koordinador PLKI sedang intens melakukan berbagai kunjungan ke kedutaan sejumlah negara untuk membangun komunikasi dan membuka peluang kerja sama pendidikan internasional. Ini bagian dari komitmen kami meningkatkan jumlah mahasiswa internasional di UIN Jambi,” ujar Prof. Kasful Anwar.
Ia menilai, arah kebijakan internasionalisasi PTKIN yang didorong Kementerian Agama RI menjadi momentum penting bagi kampus Islam untuk tampil lebih kompetitif di level dunia. Karena itu, UIN Jambi mulai mempersiapkan berbagai program strategis yang mendukung terciptanya atmosfer akademik internasional.
Menurutnya, internasionalisasi tidak hanya berbicara tentang kehadiran mahasiswa asing, tetapi juga penguatan kualitas akademik, riset kolaboratif, pertukaran dosen, publikasi internasional, hingga pengembangan program unggulan berbasis global.
“Semangat internasionalisasi harus dibangun secara kolektif. UIN Jambi ingin menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat studi Islam dunia,” tambahnya.