Universitas Islam Negeri
Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi

FGD Senat PTKIN Se-Indonesia: Peran Senat Bagi Penguatan Akademik Unggul dan Bereputasi Internasional

Dalam upaya memperkuat akademik Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Forum Senat PTKIN kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Wings Hotel, Medan. Acara yang berlangsung dari Jumat hingga Minggu (19-21 Juli 2024) ini digagas oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara dan dihadiri oleh seluruh ketua dan sekretaris Senat PTKIN se-Indonesia. Senin, 22 Juli 2024. Diikuti oleh 60 orang peserta, dengan 33 Ortaker Senat se Indonesia, yang terdiri atas: UIN 17, IAIN 14 dan STAIN 2 se Indonesia.

PTKIN di tanah air terus membenah dirinya dengan melakukan berbagai transformasi kelembagaan, baik secara parsial maupun secara masif yang bermula sejak tahun 2000an silam, yang diawali sebagai kiblat utama transformai UIN Syahid Jakarta, UIN Suka Jogjakarta dan UIN Malang. Transformasi ini terus bergulir hingga kurun terkini, di mana semua PTKIN telah melakukan perubahan menaikkan status lembaganya menjadi UIN, IAIN dan STAIN. Bahkan diikuti juga oleh semua PTS berbasis keagamaan di seluruh tanah air. Transformasi PTKIN menjadi sebuah keniscayaan, selain tagihan keunggulan lokal juga tagihan kompetisi dan reputasi global. Sehingga tagihan harus menghela semua PTKIN maupun PTS melakukan Fastabiqul Khairat meraih unggul dan mengejar reputasi dunia internasional.

Tantangan demi tantangan peluang demi peluang pendidikan terbuka lebar, sehingga siapa saja hari ini baik secara ikhlas atau terpaksa melibatkan dirinya sebagai kompetitor mengibarkan  dan mengobarkan benderanya sebagai petarung ulung dan harus memenangkan pertarungan dalam blantika kompetisi globalisasi dan liberalisasi pendidikan, di tengah masyarakat super cerdas dengan teknologi informasi digital dan artificial inteligent.

Innovation or Die, demikianlah filosofi dalam manajemen pendidikan, terhadap dinamika pendidikan yang senantiasa harus melakukan penyesuaian diri secara “adaptif dan adaptatif”, jika mereka tidak ingin ditinggalkan, sepi peminat dari stakeholder yang menjadi pelanggannya.  Hari ini disadari atau tidak oleh pihak pimpinan PTKIN, telah terjadi gerusan dan penurunan yang signifikan terhadap rekrutmen mahasiswa baru. Hal ini terjadi secara signifikan peningkatan penerimaan mahasiswa baru di Universitas-Univeraitas di tanah air, karena kebijakan PTNBH yang telah merambah di semua Universitas.  Kebijakan PTNBH ini telah memberikan ruang seluas-luasnya,

PT saat merekrut mahasiswa sebanyak-banyaknya agar dapat menggali dan meningkatkan sumber pendanaan dari masyarakat secara maksimal. Kebijakan PTNBH, bahkan telah berkontribusi dalam peningkatan penerimaan mahasiswa baru di universitas tanah air, ada yang menaikan rekrutmennya hingga angka 50%, dari penerimaan mahasiswa baru dari tahun sebelumnya, Fakta dan realitas empiris ini, tentu makin membikin miris, melihat tantangan dan kompetisi globalisasi dan liberalisasi pendidikan yang luar biasa ini. Menyiasati kondisional senat PTKIN di tanah air, yang dinilai belum potensial dan sangat variatif gaya pengelolaannya, serta cenderung pasif di tengah blantika perguruan tinggi Islam Negeri di tanah air. Peran senat berada pada 3 ranah utama, sebagai pemberi pertimbangan, melakukan evaluasi dan mitra rektor dalam pengambilan kebijakanMelihat perkembangan dan transformasi PTKAIN yang sangat pesat, sudah selayaknya Ortaker Senat sebagai mitra harus sejajar bersanading dan berkontribusi dengan ortaker eksekutif yang ada di PTKAIN, dengan membingkai programnya yang terukur, terstandar dan teranggarkan sesuai visi misi lembaga dan pimpinan (Rektor).

Dorong Penguatan Senat Akademik, Prof. Dr. H. Mukhtar,M.Pd Berperan Aktif dalam FGD Forum Senat Akademik PTKIN se-Indonesia di Medan.

Merespon fenomena ini, dilakukan diskursus mendalam dan berulang serta kolaborasi hermenetic dua  guru besar Prof. Dr. Mukhtar Latif, ketua Senat yang juga mantan rektor UIN STS Jambi dan Prof. Dr. Dede Rosyada.  Ketua Senat dan mantan rektor UIN Syahid Jakarta, untuk menemukan formula efektif dan produktif atas fenomena yang tengah melingkupi senat akademik PTKAIN terkini.

FGD menghasilkan komitmen bersama membentuk Forum Senat PTKAIN se Indonesia dalam bentuk PRESiDIUM sejumlah 13 lembaga yang ex offocio ketuanya sebagai anggota presidium, yang terdiri atas perwakilan seluruh PTKAIN dari Sabang hingga Merauke.

Adapun ke 13 lembaga yg diamanahkan terdiri dari:

1. UIN SU Medan.

2. UIN SYAHID Jakarta.

3. UIN SUKA Yogjakarta.

4. UIN SGD Bandung.

5. UIN Alauddin Makasar.

6. UIN IB Padang.

7. UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

8. UIN Mataram.

9. UIN AR-RANAIRY Banda Aceh.

10. UIN MALIKI Malang.

11. IAIN Pontianak.

12. IAIN Manado.

13. STAIN Bengkalis.

Selain itu telah pula dilahirkan rekomendasi FGD yang dibahas dalam lima komisi senat PTKAIN secara mendalam. Relasi antara Senat dengan Rektor bersifat Kolaboratif atau kemitraan tidak ada sifatnya garis komando. Fungsi kemitraan dan kolaborasi dimaksudkan saling mengisi, dan bertegur sapa saling menguatkan. Senat dengan pimpinan PTKIN bersanding bukan bertanding.  Senat mengutamakan kepentingan lembaga dari pada kepentingan kelompok. Senat dan pihak eksekutif adalah power sharing “BERSAMA UNTUK MENCAPAI VISI UNIVERSITAS”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses