Menginspirasi Dosen Muda: Prof. Iskandar Nazari “Dekonstruksi Desain Kurikulum OBE Berbasis Ruhiologi”

Opini 6 menit baca 51 kali dilihat
Menginspirasi Dosen Muda: Prof. Iskandar Nazari “Dekonstruksi Desain Kurikulum OBE Berbasis Ruhiologi”
(Panduan Komprehensif SCL melalui Hirarki Pendekatan, Model, Strategi, Metode & Teknik)

Ruang pertemuan Hotel Aston Jambi mendadak riuh, bertenaga, dan hidup pada Kamis siang. Sebanyak 3 JPL alokasi waktu yang disediakan, mulai pukul 13.00 hingga 15.15 WIB, terasa berjalan begitu cepat tanpa ada rasa kantuk sedikit pun dari para peserta. Suasana penuh dialektika inilah yang mewarnai sesi materi Pelatihan Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi tahun 2026.

Hadir sebagai narasumber utama, Pakar Psikologi Pendidikan sekaligus Founder Ruhiologi, Prof. Iskandar Nazari, S.Ag., M.Pd., M.S.I., M.H., Ph.D.. Di hadapan puluhan dosen muda, ia melakukan dekonstruksi radikal terhadap desain pembelajaran kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Prof. Iskandar menginspirasi peserta untuk melakukan pergeseran paradigma dari Teacher-Centered Learning (TCL) ke Student-Centered Learning (SCL) yang diaktualisasikan dan disempurnakan secara taktis ke dalam Paradigma Transintegrasi Berbasis Ruhiologi melalui pendekatan Ruhani-Based Education (RBE).

Dosen muda di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKI) ditegaskan wajib memahami, menguasai, dan menuangkan konstruksi hierarki metodologi pembelajaran yang utuh mulai dari pendekatan, model, strategi, metode, hingga taktik mikro secara nyata ke dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

Jembatan Teori Belajar: Menjadikan Ruhiologi sebagai Penyempurna Puncak

Dalam paparannya, Prof. Iskandar mengingatkan agar para dosen tidak membenturkan teori Barat dengan Ruhiologi. Sebaliknya, Ruhiologi harus diposisikan sebagai “mahkota” atau puncak penyempurna dari evolusi teori-teori belajar konvensional:

  • Behaviorisme: Berfokus pada perubahan perilaku luar mahasiswa melalui pola stimulus-respons.
  • Kognitivisme: Berfokus pada proses berpikir dan penataan struktur mental mahasiswa.
  • Konstruktivisme: Berfokus pada pemaknaan aktif oleh mahasiswa dalam membangun pengetahuannya sendiri secara mandiri atau kelompok (fondasi utama SCL).
  • Ruhiologi (Transintegrasi): Menembus batas fisik dan kognitif. Pembelajaran bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) atau membangun kognisi semata, melainkan sebuah proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Pendekatan ini mengoneksikan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual (ruh) melalui aktivasi top-down meta-intelligence. Di sini, ilmu umum dan ilmu agama menyatu tanpa dikotomi karena semuanya bersumber dari Allah yang Maha Satu.

Reposisi Total: Mengapa SCL Saja Belum Cukup?

Kepada para peserta PKDP, Guru Besar UIN Jambi ini menegaskan bahwa penerapan SCL konvensional saja belum cukup untuk lingkungan PTKI. Diperlukan reposisi paradigma yang jauh lebih mendalam:

  • TCL (Pasif): Paradigma lama yang menempatkan dosen secara kaku sebagai “sage on the stage” dan satu-satunya sumber ilmu, sehingga ruang kelas menjadi pasif dan monoton.
  • SCL (Aktif): Mahasiswa mengeksplorasi ilmu secara mandiri maupun berkelompok melalui model inovatif seperti Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL).
  • SCL + Ruhiologi (Transintegratif): Mahasiswa aktif mencari ilmu, namun mereka dibimbing secara batiniah untuk melihat keagungan Sang Pencipta di balik setiap fenomena sains maupun sosial yang dipelajari. Pada titik ini, peran dosen bertransformasi dari sekadar fasilitator menjadi seorang Mursyid atau agen spiritual yang menghidupkan ruh keilmuan dan kesadaran Ilahiah mahasiswa.

Struktur Pemetaan Materi untuk Modul dan Slide RPS

Untuk memudahkan para dosen pemula dalam mengimplementasikannya, Prof. Iskandar menyajikan tabel komparasi taktis sebagai panduan praktis penyusunan RPS Transintegratif:

KomponenParadigma Konvensional (Barat/Sekular)Paradigma Transintegrasi Berbasis Ruhiologi (UIN Jambi)
PendekatanKonstruktivisme / Humanisme (Fokus pada pengembangan manusia semata).Transintegratif-Spiritual / Ruhani-Based Education (RBE) (Integrasi sains dan Islam berbasis kesadaran ruh).
ModelProblem-Based Learning (PBL) & Project-Based Learning (PjBL).PBL/PjBL Transintegratif. (Contoh: Kasus stunting tidak hanya dibahas dari sisi medis dan ekonomi, tetapi diintegrasikan langsung dengan nilai maqashid syariah & empati ruhani).
StrategiKooperatif dan Kolaboratif.Sinergi Lahiriah & Batiniyah (Diskusi kelompok aktif yang selalu diawali atau diakhiri dengan refleksi makrifat/muhasabah).
Metode & TeknikDiskusi, Presentasi, dan Simulasi digital.Riyadhah Ilmiah: Diskusi kritis + Tadabbur ayat/fenomena alam + Kontemplasi nilai moral yang aplikatif.

 

Strategi Penyampaian (How to Deliver) bagi Dosen Pemula

Di akhir sesi, Founder Ruhiologi ini membagikan tiga tips esensial bagi dosen muda dalam mengajar di kelas:

  • Gunakan Metafora “Lokomotif Perubahan”: Prof. Iskandar mengingatkan bahwa setiap dosen UIN Jambi adalah masinis dari lokomotif perubahan. Oleh karena itu, semangat transintegrasi ilmu tidak boleh hanya menjadi pajangan visi-misi kampus, melainkan harus hidup dan bernapas di dalam setiap butir RPS yang dirancang.
  • Berikan Contoh Konkret yang Kontekstual:  “Jika mengajar Akuntansi (PBL): Dosen jangan hanya mengajarkan cara menghitung untung-rugi perusahaan secara matematis, melainkan wajib mengintegrasikannya dengan konsep amanah, pertanggungjawaban (hisab) di akhirat, serta dampak ruhiologi sosialnya bagi masyarakat luas.
    • Jika mengajar Biologi (PjBL): Proyek penelitian ekosistem Sungai Batanghari tidak boleh berhenti pada masalah lingkungan fisik semata, melainkan harus ditarik menjadi sarana tadabbur atas rusaknya alam akibat hilangnya sifat khilafah dan moral manusia.
  • Tekankan Prinsip “Adab sebelum Ilmu”: Dalam kacamata Ruhiologi, dosen wajib membersihkan hati dan meluruskan niatnya terlebih dahulu sebelum melangkah kaki mengajar. Hal ini menjadi kunci utama agar “ruh” ilmu pengetahuan yang disampaikan mampu menembus dan menetap di dalam hati sanubari mahasiswa, bukan hanya sekadar singgah di telinga.

Taktik Keheningan (Ruhiology): Solusi Stres dan Pendongkrak Fokus Akademik

Menjawab problem sosiopsikologis generasi muda kekinian yang akrab dengan kebisingan digital, beban tugas, dan kecemasan masa depan, Prof. Iskandar memperkenalkan teknik neuro-psikologis yang bersumber dari tradisi Islam: Taktik Keheningan (The 3-Minute Reflective Pause).

Teknik operasional ini menuntut dosen untuk menjeda perkuliahan pada momen tertentu:

  1. Tutup Layar: Mahasiswa diminta menutup laptop dan gawai secara fisik untuk memutus arus distraksi digital.
  2. Hening Total: Ruang kelas dikondisikan senyap selama 3 menit. Mahasiswa dibimbing melakukan relaksasi melalui tadabbur napas (menarik napas dalam secara lambat seraya berzikir di dalam batin) untuk menurunkan hormon kortisol penyebab stres.
  3. Ekstraksi Esensi: Mahasiswa menuliskan refleksi makrifat (muhasabah) di secarik kertas untuk menjawab satu pertanyaan eksistensial: “Apa esensi terdalam dari materi hari ini yang mengubah cara saya memandang kehidupan dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta?”

Taktik ini terbukti sangat aplikatif meredakan ketegangan mental (burnout), mengembalikan gelombang fokus otak, serta melatih daya metakognisi mahasiswa sebelum melanjutkan dialektika kelas.

Antusiasme Tinggi: Saatnya Think Out of the Box!

Para dosen muda mengikuti pelatihan ini dengan antusiasme yang luar biasa. Mereka langsung ditantang melakukan diskusi interaktif dan latihan membuat draf RPS yang aplikatif untuk menjawab tuntutan kurikulum OBE sekaligus integrasi ilmu dengan konsep Islami.

Prof. Iskandar mengingatkan bahwa tugas mengajar di PTKI adalah jalan juang untuk melahirkan Sarjana Intelektual Berkesadaran Ketuhanan. Beliau mengajak para dosen untuk keluar dari rutinitas mengajar yang sekadar “gugur kewajiban”.

“Kita harus Think out of the Box! Masalah mahasiswa kekinian membutuhkan Ijtihad Tajdid (pembaharuan berpikir) sebagai bentuk ikhtiar nyata kita mencari jalan keluar dari berbagai problem umat,” tegas Prof. Iskandar di tengah sesi diskusi yang hangat.

Sesi Interaktif Kuis Buku dan Komitmen Diskusi Lanjutan

Suasana kelas semakin hidup ketika Prof. Iskandar memberikan tantangan kuis ilmiah. Beliau menyiapkan 2 buku karya monumentalnya bagi peserta yang mampu memberikan jawaban paling cepat dan tepat. Pertanyaan kuis langsung diserbu oleh para dosen muda yang berebut menjawab, membuat suasana pelatihan menjadi sangat kompetitif namun penuh tawa keakraban.

Waktu 3 JPL pun terasa berjalan begitu cepat hingga tak terasa bel tanda berakhirnya sesi berbunyi. Karena tingginya rasa penasaran dan ketertarikan para dosen muda untuk mendalami penerapan praktis paradigma Ruhiologi ini di kelas mereka masing-masing, para peserta meminta kesediaan Prof. Iskandar untuk melanjutkan diskusi di luar forum resmi.

Merespons permintaan tersebut, Prof. Iskandar dengan penuh hangat menyanggupi dan memberi tahu peserta bahwa ia akan menyediakan waktu khusus di kemudian hari demi mengawal kompetensi pedagogik transintegratif para dosen muda UIN Jambi. Dari rahim kelas PKDP di Hotel Aston inilah, fajar baru peradaban transintegrasi ilmu UIN Jambi siap diwujudkan melalui aksi nyata di ruang kuliah!

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.