Universitas Islam Negeri
Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi

Pidato Rektor UIN STS Jambi Dalam Seminar Internasional Pada Milad ke-47 Diniyyah Al-Azhar Muara Bungo

Rektor Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Dr. As’ad., M.Pd., selaku Koordinator Kopertais XIII yang diwakili oleh Sekretaris Kopertais, Dr. H. Jamrizal., M.Pd., bertindak sebagai pembicara pada Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Pesantren Diniyyah.

Kegiatan ini dalam rangka Milad ke-47 Diniyyah Al-Azhar Muara Bungo, dengan Tema: Tantangan Dunia Pendidikan Islam dan Model Pembelajaran Efektif Dalam Menghadapi Arus Revolusi Industri 5.0.

Society 5.0 adalah konsep yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang untuk menggambarkan visi masa depan untuk teknologi canggih pada tahun 2016. Kemudian European Commission atau Uni Eropa mengumumkan secara resmi ringkasan kebijakan tentang Industri 5.0 pada bulan Januari 2021. Uni Eropa menganggap maka tanda sepuluh tahun yang lalu Industri 4.0, telah terlewati sehingga banyak bermunculan peneliti dan para pakar untuk membandingkan hubungan dan perbedaan antara Industri 4.0 dan Industri 5.0.

Dalam penjelasannya, dia mengutip dari Zhang dkk bahwa Industri 4.0 dianggap berfokus pada cara mengoptimalisasi sebuah pekerjaan, efektivitas sebuah mesin dan teknologi, dan sistem komputerisasi. Sedangkan Society 5.0 lebih didorong oleh kekuatan digital, di mana transformasi masyarakat yang didorong oleh perkembangan teknologi digital seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence AI) , Internet of Things (IoT) dan lainnya, sehingga memberikan sudut pandang yang berbeda untuk inovasi dalam mendukung industri jangka panjang kepada umat manusia. Revolusi Industry 4.0 dan Society 5.0 merupakan gerakan nyata terhadap perkembangan informasi dan teknologi yang semakin canggih.

Kemajuan tersebut menjadi tantangan tersediri bagi dunia pendidikan dan seluruh komponen masyarakat. Oleh karena itu untuk menghadapi munculnya society 5.0 dibutuhkan terobosan-terobosan yang paten dalam upaya menghadapi tantangan yang akan ditimbulkan society 5.0. Konsep Society 5.0 juga diadopsi pemerintah Jepang sebagai antisipasi terhadap tren global sebagai akibat dari munculnya revolusi industri 4.0. society 5.0 adalah hal alami yang pasti terjadi akibat munculnya revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 telah melahirkan berbagai inovasi dalam dunia industri dan juga masyarakat secara umum.

Society 5.0 merupakan jawaban atas tantangan yang muncul akibat era revolusi industri 4.0 yang dibarengi disrupsi yang ditandai dunia yang penuh gejolak, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Society 5.0 adalah konsep yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang untuk menggambarkan visi masa depan di mana teknologi canggih, seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), robotika, dan big data, digunakan untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih inklusif. Ini adalah langkah evolusioner berikutnya setelah masyarakat berburu dan meramu (Society 1.0), masyarakat agraris (Society 2.0), masyarakat industri (Society 3.0), dan masyarakat informasi (Society 4.0), sampailah pada saat ini masyarakat Super Cerdas (Society 5.0).

Karakteristik Society 5.0: 1. Integrasi Teknologi Canggih: Penggunaan AI, IoT, dan teknologi lainnya untuk meningkatkan kualitas hidup. 2. Fokus pada Manusia: Teknologi digunakan untuk memenuhi kebutuhan individu dan menciptakan masyarakat yang berpusat pada manusia. 3. Peningkatan Kualitas Hidup: Mengatasi masalah sosial seperti penuaan populasi, urbanisasi, dan perubahan iklim. 4. Ekonomi Berbasis Data: Pemanfaatan big data untuk mengoptimalkan berbagai sektor ekonomi, termasuk manufaktur, transportasi, dan layanan kesehatan. 5. Inklusivitas: Menciptakan masyarakat di mana setiap orang dapat berpartisipasi secara aktif dan merasakan manfaat dari perkembangan teknologi.

Dampak Society 5.0 dalam Masyarakat: 1. Pekerjaan dan Ekonomi: Otomatisasi dan AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga menimbulkan tantangan terkait pekerjaan dan pelatihan ulang tenaga kerja. 2. Kesehatan: Teknologi medis yang canggih dapat meningkatkan diagnosis dan perawatan, serta memungkinkan pemantauan kesehatan secara real-time. 3. Pendidikan: Pendidikan yang dipersonalisasi dengan bantuan AI dan teknologi dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. 4. Mobilitas dan Transportasi: Kendaraan otonom dan sistem transportasi pintar dapat meningkatkan efisiensi dan keselamatan di jalan raya. 5. Lingkungan: Teknologi hijau dan solusi berbasis data dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dan memperbaiki keberlanjutan.

Tantangan dalam Implementasi Society 5.0: 1. Privasi dan Keamanan Data: Perlindungan data pribadi dan keamanan siber menjadi sangat penting. 2. Ketimpangan Digital: Akses ke teknologi dan internet perlu disebarkan secara merata agar tidak menimbulkan ketimpangan sosial. 3. Regulasi dan Kebijakan: Dibutuhkan regulasi yang adaptif dan inovatif untuk mengikuti perkembangan teknologi. 4. Kesiapan Masyarakat: Perlu adanya edukasi dan peningkatan kesadaran di masyarakat tentang manfaat dan penggunaan teknologi baru.
Society 5.0 menawarkan visi optimis tentang masa depan di mana teknologi dan inovasi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Contoh penerapan era society 5.0, kata dia, dalam pendidikan bisa dilihat dari pendidikan berbasis AI dan pembelajaran adaptif. Sistem pembelajaran yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyesuaikan materi dan kecepatan pembelajaran dengan kebutuhan individu siswa. AI dapat menganalisis gaya belajar siswa dan menyesuaikan konten secara real-time untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih efektif.
Selain itu, bisa juga dari penggunaan big data untuk peningkatan kurikulum. Guru mengumpulkan dan menganalisis data besar dari berbagai sumber untuk memahami keefektifan metode pengajaran, materi pembelajaran, dan hasil belajar siswa. Ini membantu dalam membuat penyesuaian kurikulum dan strategi pengajaran yang lebih tepat sasaran. Itulah informasi tentang 4 peran pendidikan di era terbaru, yaitu society 5.0.
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting karena harus bisa menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Banyaknya SDM yang berkualitas akan membuat negara ini menjadi negara maju dan beradab. Bidang pendidikan dapat memanfaatkan Revolusi Industri 5.0 dengan baik untuk membantu dalam proses belajar mengajar. Pada era ini, peserta didik diharapkan dapat menguasai 4C (creativity, critical thinking, communication, dan collaboration) agar generasi penerus bangsa dapat bersaing pada abad 21. Revolusi Industri 5.0 memberikan inovasi yang besar pada bidang pendidikan seperti penyediaan akses pendidikan yang lebih mudah dan fleksibel. Contoh yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti kursus pembelajaran online, konten pendidikan di media sosial, dan platform pembelajar online.
Dengan penyediaan akses pendidikan yang lebih luas dan fleksibel, pendidikan orang-orang di daerah terpencil akan memiliki kesempatan untuk mendapat kemajuan dengan daerah lain. Revolusi Industri 5.0 juga berpengaruh besar dalam perubahan gaya dan model pembelajaran. Metode yang awalnya berpusat pada guru sekarang digantikan dengan pendekatan pada siswa yang menekankan pemecahan masalah, kreativitas, dan pemikiran kritis. Tugas yang diberikan pada zaman sekarang lebih berbasis proyek dikarenakan kemajuan teknologi. Peran guru juga berubah secara perlahan saat memasuki Revolusi Industri 5.0. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mentor untuk membantu siswa berkembang dalam keterampilan kritis, kreativitas dan kolaborasi secara mandiri. Guru juga dapat menggunakan teknologi untuk membantu proses mengajar dalam kelas dan membuat pengalaman pembelajaran yang menarik dan yang relevan pada kehidupan siswa. Konsep ini menggabungkan inovasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan masyarakat yang berpusat pada manusia dengan tujuan mencapai keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial.
Dalam konteks pendidikan, Society 5.0 memiliki beberapa implikasi penting:
1. Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran Penggunaan teknologi canggih seperti AI, IoT (Internet of Things), big data, dan robotika untuk meningkatkan proses belajar mengajar. Contohnya:
* AI dalam Pendidikan: AI dapat digunakan untuk mengembangkan sistem pembelajaran adaptif yang dapat menyesuaikan materi pelajaran berdasarkan kemampuan dan kebutuhan siswa.
* Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR): Teknologi ini dapat digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang imersif, seperti tur virtual ke situs bersejarah atau simulasi laboratorium ilmiah.

2. Pengembangan Keterampilan Abad ke-21 Pendidikan di era Society 5.0 menekankan pada pengembangan keterampilan yang relevan dengan tuntutan zaman, seperti:
* Keterampilan Digital: Kemampuan menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
* Keterampilan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah: Kemampuan untuk menganalisis informasi secara kritis dan menemukan solusi untuk masalah yang kompleks.
* Kreativitas dan Inovasi: Mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan menghasilkan ide-ide inovatif.

3. Pembelajaran Sepanjang Hayat
Mendorong konsep pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) di mana individu terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sepanjang hidup mereka. Ini penting untuk menyesuaikan diri dengan perubahan cepat dalam dunia kerja dan teknologi.

4. Kolaborasi dan Pembelajaran Interdisipliner
Mendorong kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu dan sektor untuk menciptakan solusi yang lebih komprehensif dan inovatif. Misalnya, kolaborasi antara bidang teknologi, kesehatan, dan pendidikan untuk mengembangkan aplikasi kesehatan digital yang mendukung proses pembelajaran.

5. Pendidikan yang Berpusat pada Siswa Mengutamakan pendekatan yang berpusat pada siswa, di mana pembelajaran disesuaikan dengan minat, kebutuhan, dan kecepatan belajar masing-masing siswa. Teknologi memungkinkan personalisasi pembelajaran ini dengan lebih efektif. Tantangan dalam Implementasi
* Kesetaraan Akses: Memastikan bahwa semua siswa memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan sumber daya pendidikan.
* Pelatihan Guru: Memberikan pelatihan dan dukungan yang memadai bagi guru untuk mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran.
* Privasi dan Keamanan Data: Menjaga privasi dan keamanan data siswa dalam penggunaan teknologi pendidikan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Society 5.0, pendidikan dapat menjadi lebih inklusif, efektif, dan relevan dengan perkembangan zaman, mempersiapkan generasi mendatang untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.

Tantangan Pendidikan Islam Era Society 5.0
Pendidikan Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam atau sesuatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, merumuskan dan berbuat berdasarkan nilai- nilai Islam, serta bertanggungjawab sesuai dengan nilai- nilai Islam”. dasar-dasar Pendidikan Islam yaitu terdiri dari Al-Qur‟an, Sunah dan ijtihad, walaupun sebenarya ijtihad disini hanya pemahaman dan penerjemahan terhadap kedua sumber utama tersebut, namun seperti yang dijelaskan tadi perlunya ijtihad digunakan karena semakin banyaknya permasalahan yang berkembang sekarang ini dalam bidang pendidikan, sehingga ijtihad bisa menjadi sumber lain dalam penyelenggaran pendidikan, karena diperlukannya pemikiran-pemikiran baru yang berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga perlu adanya terobosan ilmiah sebagai penunjang dalam pengembangan Pendidikan Islam secara sistematis.
Pendidikan Islam tidak terbatas pada pesantren atau madrasah tradisional. Saat ini, banyak lembaga pendidikan Islam yang mengintegrasikan kurikulum modern dengan nilai-nilai Islam. Mereka mengajarkan ilmu pengetahuan umum seperti matematika, sains, bahasa, dan sejarah sambil tetap memberikan pendidikan agama yang kokoh. Pendidikan Islam modern menggabungkan metode pengajaran yang interaktif dan teknologi informasi untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih efektif.
Dalam era globalisasi, pendidikan Islam dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satunya adalah mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai universal seperti hak asasi manusia, pluralisme, dan demokrasi. Pendidikan Islam perlu mengajarkan kepada generasi muda cara beradaptasi dengan lingkungan multikultural dan global yang semakin kompleks. Pendidikan Islam adalah konsep pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Tujuannya adalah membentuk individu Muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, dan memiliki pengetahuan yang luas. Pendidikan Islam juga telah mengalami transformasi dalam konteks pendidikan modern, dengan integrasi ilmu pengetahuan umum dan teknologi. Namun, tantangan tetap ada dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai universal dan mengajarkan adaptasi dalam lingkungan global yang kompleks.
Saat ini, 4,4 juta anak Indonesia menempuh studi di pesantren pada jenjang sekolah dasar. Banyaknya jumlah santri tersebut menunjukkan bahwa pendidikan berbasis Islam tidak bisa diabaikan. Pendidikan berbasis Islam juga berpengaruh pada terwujudnya wajib belajar 12 tahun. Namun ada sejumlah tantangan pada pendidikan berbasis Islam ini. Misalnya, pemerintah daerah perlu mendanai pendidikan Islam yang saat ini masih disentralisasikan. Sementara pendanaan pendidikan umum seperti SD hingga SMA disalurkan melalui pemerintah di daerah. Jadi pembiayaan pendidikan Islam itu satu-satunya yang masih tersentralisasi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses