PKDP 2026 UIN STS Jambi, Ahmad Zainul Hamdi: Integrasi Sains dan Islam Tak Cukup Sekadar Label di PTKI

Berita 3 menit baca 50 kali dilihat
PKDP 2026 UIN STS Jambi, Ahmad Zainul Hamdi: Integrasi Sains dan Islam Tak Cukup Sekadar Label di PTKI

JAMBI — Transformasi besar-besaran perguruan tinggi keagamaan Islam terus menjadi perhatian Kementerian Agama Republik Indonesia. Karena itu, isu integrasi ilmu dan agama kembali dibahas dalam kegiatan PKDP di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Penutupan materi hari kedua PKDP tahun 2016 berlangsung bersama Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kemenag RI, Ahmad Zainul Hamdi, Selasa (9/6/2026). Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad Zainul Hamdi membahas masa depan integrasi sains dan Islam di lingkungan PTKI.

Ia menyoroti transformasi besar-besaran Institut Agama Islam Negeri menjadi Universitas Islam Negeri di Indonesia. Menurutnya, perubahan tersebut membawa dampak besar terhadap perkembangan pendidikan tinggi Islam nasional. Selain itu, transformasi itu dinilai berhasil meruntuhkan dikotomi lama antara ilmu agama dan ilmu umum. Karena sebelumnya, dua rumpun keilmuan tersebut sering dipisahkan dalam praktik pendidikan tinggi.

Kini, perguruan tinggi Islam mulai membuka ruang lebih luas bagi pengembangan sains modern. Bahkan, banyak PTKI telah menghadirkan program studi umum dalam sistem pendidikan mereka. Namun demikian, Prof. Ahmad Zainul Hamdi menilai perubahan tersebut juga menyisakan persoalan baru.

Ia mengkritik munculnya fenomena labeling atau Islamisasi yang bersifat kosmetik semata. Menurutnya, sebagian perguruan tinggi hanya menambahkan label Islam tanpa memperkuat substansi keilmuan. Akibatnya, integrasi ilmu dan agama belum sepenuhnya berjalan secara mendalam dan berkelanjutan.

Ia menegaskan integrasi tidak cukup dilakukan melalui perubahan nama atau simbol kelembagaan saja. Sebaliknya, integrasi harus hadir dalam paradigma berpikir, penelitian, dan pengembangan akademik kampus. Karena itu, perguruan tinggi Islam diminta membangun tradisi ilmiah yang lebih kuat dan kritis.

Selain itu, dosen juga didorong mengembangkan pendekatan multidisipliner dalam proses pembelajaran. Menurutnya, PTKI harus mampu melahirkan ilmuwan yang memiliki kapasitas akademik sekaligus nilai spiritual. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi Islam dapat bersaing di tingkat nasional maupun global.

Ia juga menilai tantangan PTKI saat ini semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital. Karena perkembangan teknologi menuntut perguruan tinggi bergerak lebih adaptif dan inovatif. Oleh sebab itu, integrasi ilmu agama dan sains perlu diperkuat melalui riset yang relevan. Selain riset, penguatan kurikulum juga menjadi bagian penting dalam proses transformasi pendidikan tinggi Islam.

Prof. Ahmad Zainul Hamdi menegaskan bahwa PTKI tidak boleh tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern. Namun demikian, identitas keislaman kampus tetap harus menjadi fondasi utama pengembangan akademik. Ia berharap perguruan tinggi Islam mampu menjadi pusat lahirnya gagasan baru yang moderat dan progresif.

Sementara itu, peserta PKDP mengikuti sesi penutupan materi dengan antusias hingga akhir kegiatan. Mereka aktif berdiskusi mengenai tantangan integrasi ilmu dan arah masa depan pendidikan tinggi Islam. Sesi ini sekaligus menjadi ruang refleksi bagi dosen dalam memperkuat kualitas akademik di PTKI.

Melalui forum itu, peserta diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih integratif dan kontekstual. Selain itu, kegiatan PKDP juga menjadi bagian penguatan kapasitas dosen di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Dengan berakhirnya materi hari kedua, peserta memperoleh pemahaman baru mengenai tantangan transformasi PTKI di Indonesia.

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.