Sutha Corner, Budaya Makan Mahasiswa dan Bisnis Kampus yang Berkelanjutan

Opini 4 menit baca 52 kali dilihat
Sutha Corner, Budaya Makan Mahasiswa dan Bisnis Kampus yang Berkelanjutan

Oleh: Dr. Pahmi SY, S.Ag, M.Si (Wakil Rektor Bidang Umum Administrasi Perencanaan Keuangan)

UIN Sulthan Thaha Saifuddin melalui Pusat Bisnisnya kembali membuka ruang baru untuk mengembangkan bisnis dan kesejahteraan mahasiswa. Tepatnya di hari kamis tanggal 2 Juli 2026 dilaksanakanlah acara Green Opening Sutha Corner di Kampus II Simpang Sungai Duren Kabupaten Muaro Jambi. Pembukaan rumah makan yang menjangkau seluruh civitas akademika khususnya mahasiswa merupakan upaya untuk memudahkan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan makannya.

Sutha Corner dihadirkan bukan hanya sekedar tempat makan dan minum, tetapi merupakan arena tempat berinteraksi antara berbagai kelompok mahasiswa, dosen, civitas akademika dan komunitas lainnya. diruang yang terbuka dan bernuasa alami. Sutha Corner sebagai wadah pertemuan antara pembeli dan penjual diharapkan akan menjadi produktif dan inspiratif bagi para mahasiswa. Sambil makan dan minuim semakin terbukalah ruang-ruang diskusi, dialog dan sharing idea (bertukar gagasan dan informasi)

Makan bukan sekadar aktivitas biologis untuk menghilangkan rasa lapar. Dalam perspektif antropologi, makan merupakan praktik budaya yang mencerminkan gaya hidup, nilai, identitas, hingga relasi sosial suatu komunitas. Di lingkungan perguruan tinggi, budaya makan mahasiswa turut membentuk ekosistem ekonomi kampus yang berpengaruh terhadap kesejahteraan pelaku usaha, kesehatan sivitas akademika, dan keberlanjutan lingkungan.

Sebanyak lebih kurang 20.000 warga kampus UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan setiap hari jam kerja sekitar 5.000 orang yang beraktivitas di kampus, menjalankan proses perkuliahan, layanan dan aktivitas lainnya, Kehadiran lima ribu warga tersebut tentulah membutuhkan makan yang cepat, sehat dan nikmat. Sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut Shuta Corner hadir dengan khas tersendiri yang diharapkan memberikan warana baru, spirit baru dan ekosistem baru dalam dunia bisnis kampus.

Mahasiswa adalah kelompok dengan mobilitas tinggi dan pola konsumsi yang khas. Jadwal kuliah yang padat sering membuat mereka memilih makanan yang praktis, cepat, dan terjangkau. Kebiasaan ini menciptakan pasar yang besar bagi kantin, koperasi, usaha mikro, pedagang kaki lima, hingga layanan pesan antar. Jika dikelola secara baik, budaya makan mahasiswa dapat menjadi penggerak utama bisnis kampus yang berkelanjutan.

Bisnis kampus yang berkelanjutan tidak semata mengejar keuntungan ekonomi. Ia juga memperhatikan kualitas pangan, kebersihan, keamanan makanan, kesejahteraan pelaku usaha, serta dampaknya terhadap lingkungan. Kantin kampus, misalnya, dapat mengutamakan bahanpangan lokal, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola limbah makanan, dan menyediakan pilihan menu sehat dengan harga yang terjangkau.

Dari sudut pandang antropologi ekonomi, pilihan mahasiswa terhadap makanan bukan hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh kebiasaan, pengaruh teman sebaya, citra merek, dan budaya digital. Oleh karena itu, membangun budaya makan yang sehat memerlukan edukasi sekaligus penyediaan fasilitas yang mendukung. Kampus perlu menjadi ruang yang mendorong mahasiswa untuk mengonsumsi makanan bergizi, menghargai produk lokal, dan mengurangi pemborosan pangan.

Lebih jauh lagi, bisnis makan di kampus pada satu sisi dapat menjadi laboratorium kewirausahaan. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam pengembangan usaha kuliner berbasis inovasi, digitalisasi layanan, hingga pemasaran produk UMKM. Sinergi antara perguruan tinggi, koperasi kampus, dan pelaku usaha lokal akan melahirkan ekosistem ekonomi yang inklusif sekaligus memperkuat ketahanan pangan di lingkungan kampus.

Namun pada sisi yang lain kepentingan Universitas/Perguruan Tinggi seperti UIN STS Jambi yang mengembangkan BLU (Badan Layanan Umum) wajib mengembangkan peluang-peluang bisnis yang baru yang sehat dan berkelanjutan. seperti bisnis yang berwawasan generasi masa depan menjadi penting untuk dikembangkan oleh Pusat Bisnis UIN STS jambi. Dengan membacaperilaku generasi ke generasi berikutnya tentulah akan berkorelasi dengan makanan yang akan disajikan, sehingga bisnis makan akan selalu eksis sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Pandangan para antropolog bahwa makanan menentukan masa depan kelompok masyarakat, seperti Margaret Mead: bahwa pola makan adalah bagian terdalam dari budaya. Jika budaya makan berubah, maka cara hidup dan masa depan suatu masyarakat juga akan berubah. Sedangkan Claude Lévi-Strauss mengatakan bahwa: “Food is not only good to eat, but also good to think.”Maknanya: Makanan bukan hanya memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga membentuk cara manusia berpikir, mengorganisasi masyarakat, dan membangun peradaban. bengitu juga dengan Mary Douglas: “Food is a field of communication.”artinya: Makanan adalah media komunikasi sosial. Budaya makan mencerminkan nilai, keteraturan, dan identitas suatu masyarakat yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pandangan tersebut memberikan wawasan bahwa makan bukanlah hal yang sederhana, tetapi penuh dengan kompleksitas dan pembentuk budaya manusia.

Pada akhirnya, budaya makan mahasiswa bukanlah persoalan sederhana. Ia merupakan investasi sosial yang menentukan kualitas sumber daya manusia sekaligus keberlangsungan ekonomi kampus. Kampus yang memiliki budaya makan yang sehat, ramah lingkungan, dan berpihak pada ekonomi lokal akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, ekonomi, dan ekologis. Dari sepiring makanan di kantin kampus, sesungguhnya sedang dibangun fondasi peradaban yang lebih berkelanjutan.

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.