UIN STS Jambi Dorong Nilai Toleransi dalam Dialog TVRI Bertema Kebhinekaan

Berita 2 menit baca 154 kali dilihat
UIN STS Jambi Dorong Nilai Toleransi dalam Dialog TVRI Bertema Kebhinekaan

Jambi – Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Dr. Pahmi, S.Y., M. Si hadir sebagai narasumber dalam Dialog publik bertajuk Jambi Bicara. Dialog ini kembali digelar oleh TVRI Jambi pada Selasa (2/9). Acara tersebut mengusung tema “Kebhinekaan Memperkuat Persatuan”.

Selanjutnya, acara ini turut menghadirkan Wakil Ketua Umum IV Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi, Drs. H. Hatam Tafsir, M.M., yang bergelar adat Depati Intan Mangkuto Alam. Kehadiran tokoh adat ini semakin memperkuat perspektif kebhinekaan dalam konteks budaya lokal.

Selain itu, acara dipandu oleh pewawancara TVRI, Donny Yusra, yang menghadirkan pertanyaan kritis dan menggali pandangan narasumber. Dengan demikian, dialog berlangsung interaktif serta memberi wawasan luas bagi masyarakat.

Dr. Pahmi juga dikenal sebagai pengamat politik di Provinsi Jambi dengan berbagai pandangan strategis.Dalam paparannya, Ia menegaskan bahwa kebhinekaan adalah kekuatan utama bangsa Indonesia. Menurutnya, persatuan akan terwujud jika masyarakat menghargai perbedaan. Ia juga menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda.

Kemudian, ia menjelaskan bahwa kampus UIN STS Jambi terus berkomitmen menghadirkan pendidikan inklusif. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki sikap terbuka terhadap keragaman sosial dan budaya.

Sementara itu, Drs. Hatam Tafsir menyampaikan bahwa kebhinekaan harus dipelihara melalui kearifan lokal. Tradisi Melayu Jambi, katanya, memiliki nilai luhur yang dapat menjadi penopang persatuan masyarakat.

Selanjutnya, dialog ini memberikan dampak positif, terutama bagi civitas akademika UIN STS Jambi. Mahasiswa dan dosen diharapkan lebih aktif menyuarakan pentingnya keberagaman dalam kehidupan berbangsa.

Di sisi lain, masyarakat luas juga mendapat pencerahan mengenai arti penting kebhinekaan. Dengan adanya dialog ini, publik semakin memahami bahwa perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Akhirnya, kolaborasi antara akademisi, tokoh adat, dan media menjadi langkah penting memperkuat persatuan di Jambi. Dengan demikian, tema kebhinekaan bukan hanya wacana, tetapi dapat kita lihat dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri. All Rights Reserved. UTIPD 2026.