Menggugah Nalar Akademik: Publikasi Ilmiah Dosen Bukan Sekadar Kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi
Oleh: Dr. H. Ayub Mursalin, MA (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN STS Jambi)
Kewajiban menulis karya ilmiah bagi seorang dosen sering kali direspons dengan helaan napas panjang. Di tengah padatnya beban mengajar dan urusan administratif, tuntutan publikasi di jurnal bereputasi nasional maupun internasional kerap dianggap sebagai “beban tambahan” demi mengejar angka kredit atau pemenuhan beban kerja dosen (BKD).
Namun, jika kita menyelami lebih dalam pada esensi Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) yang saat ini tengah dilakukkan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, paradigma keliru ini harus segera dirombak. Menulis karya ilmiah bukanlah tentang mengisi borang administrasi untuk kenaikan pangkat atau karir saja, melainkan tentang menegaskan kepakaran atau eksistensi intelektual dan kontribusi nyata seorang dosen terhadap peradaban.
Ketika seorang dosen menulis, ia sedang mendokumentasikan gagasan, menguji teori, dan menawarkan solusi atas problem riil yang dihadapi masyarakat. Di era disrupsi informasi seperti sekarang, masyarakat membutuhkan kompas akademik yang jernih. Jika dosen-dosen muda kita absen dalam ruang publikasi, maka ruang diskusi publik akan terus diisi oleh opini-opini tanpa basis data yang kuat.
Melalui materi Penulisan Karya Ilmiah dalam PKDP ini, fokus utama kita bukan sekadar mengajarkan teknis menggunakan reference manager seperti Mendeley atau trik menembus indeks Scopus. Jauh sebelum menyentuh aspek teknis tersebut, yang kita bangun terlebih dahulu adalah disiplin berpikir dan hasrat meneliti (academic curiosity).
Sering kali, kendala terbesar dosen pemula dalam menulis bukanlah kurangnya referensi, melainkan “mental block” atau rasa tidak percaya diri terhadap orisinalitas idenya. Di sinilah pentingnya mengubah sudut pandang. Menulis harus bertransformasi menjadi sebuah budaya dan kebutuhan organik, bukan instruksi birokratis yang bersifat top-down.
Seorang dosen yang aktif meneliti dan menulis secara otomatis akan membawa atmosfer segar ke dalam ruang kelas. Mahasiswa tidak lagi disuguhi diktat-diktat usang, melainkan diseminasi hasil temuan terbaru yang hidup dan relevan. Dengan kata lain, kualitas tulisan dosen adalah cerminan langsung dari kualitas pembelajaran yang diterima oleh mahasiswa.
Langkah UIN STS Jambi dalam memfasilitasi PKDP ini adalah investasi jangka panjang yang sangat strategis. Dosen-dosen pemula yang ikut serta hari ini adalah penentu wajah universitas atau lembaganya masing-masing di masa depan. Ketika mereka dibekali dengan kemampuan menulis karya ilmiah yang kuat sejak dini, kita sedang menanam benih-benih guru besar yang produktif di kemudian hari.
Menulis karya ilmiah memang membutuhkan ketekunan, waktu yang tidak sedikit, dan kesiapan untuk dikritik melalui proses peer-review. Kepuasan intelektual akan diperoleh ketika pemikiran kita dibaca, dikutip, dan dijadikan rujukan oleh peneliti lain di belahan bumi yang berbeda. Itulah keabadian seorang akademisi.