Prof Su’aidi Bahas Transintegrasi Ilmu Saat Serahkan Buku kepada UIN STS Jambi

Berita 4 menit baca 157 kali dilihat
Prof Su’aidi Bahas Transintegrasi Ilmu Saat Serahkan Buku kepada UIN STS Jambi

JAMBI – Pengukuhan lima guru besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi berlangsung dengan khidmat. Pengukuhan yang berlangsung di auditorium Chatib Quzwain dihadiri hampir seluruh anggota senat, Kamis (20/8/2026).

Di sela kegiatan tersebut, Prof. Dr. H. Su’aidi menyerahkan dua buku kepada pimpinan UIN STS Jambi. Buku pertama berjudul Tranintegrasi Ilmu Pengetahuan: Upaya Menuju Peradaban Baru Melampaui Postmodernisme. Sementara itu, buku kedua berjudul Orientalisme Sebelum Edward Said: Islam, Barat, dan Politik Pengetahuan. Buku kedua mengulas sejarah, motivasi, pembentukan citra, serta perkembangan peradaban Islam.

Pada kesempatan itu, Prof. Su’aidi menjelaskan gagasan utama yang melatarbelakangi penulisan kedua buku tersebut. Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan perjalanan UIN STS Jambi mendirikan Fakultas Kedokteran.

Menurutnya, proses pengajuan Fakultas Kedokteran berlangsung ketika pandemi Covid-19 masih menjadi persoalan besar. Pada saat itu, UIN STS Jambi mengajukan proposal pendirian Fakultas Kedokteran kepada pemerintah. Namun, perguruan tinggi harus menjelaskan distingsi atau ciri khas fakultas yang akan didirikan. “Pada saat itu, kita dituntut menjelaskan distingsi dan ciri khas Fakultas Kedokteran,” kata Prof. Su’aidi.

Menurut dia, kebutuhan dokter di Indonesia menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengajuan tersebut. Ketimpangan rasio dokter dan jumlah penduduk dinilai masih menjadi persoalan serius. Bahkan, menurut perhitungannya, kebutuhan dokter membutuhkan waktu panjang untuk mencapai kondisi ideal. “Kalau hanya mengandalkan jumlah dokter saat itu, sampai 25 tahun pun belum tentu tercapai,” ujarnya.

Karena itu, keberadaan Fakultas Kedokteran di lingkungan perguruan tinggi keagamaan dinilai menjadi kebutuhan strategis. Terlebih, fakultas tersebut berada di bawah Kementerian Agama. Prof. Su’aidi menilai status tersebut seharusnya memberikan ruang bagi pengembangan karakter khusus Fakultas Kedokteran. Namun, perguruan tinggi tetap dituntut menunjukkan distingsi akademik yang jelas.

Persoalan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama sejumlah akademisi UIN STS Jambi. Diskusi tersebut tidak hanya membahas aspek kelembagaan dan kebutuhan tenaga medis. Lebih jauh, mereka mempertanyakan posisi ilmu kedokteran dalam tradisi keilmuan Islam.

Pertanyaan mendasarnya ialah apakah kedokteran, sains, teknologi, dan ilmu antariksa merupakan ilmu umum. Selain itu, muncul pertanyaan apakah umat Islam tidak memiliki kewajiban mempelajari bidang-bidang tersebut.

Prof. Su’aidi kemudian mengaitkan persoalan itu dengan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam. Ia mencontohkan Al-Kindi sebagai salah satu ilmuwan Muslim dalam sejarah intelektual Islam. Menurutnya, tradisi keilmuan Islam pada masa kejayaannya tidak mengenal dikotomi ilmu secara kaku. Ilmu agama dan ilmu yang kini disebut ilmu umum berkembang dalam ruang keilmuan yang terbuka. “Pada zaman keemasan Islam, tidak pernah ada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum,” katanya.

Karena itu, menurut Prof. Su’aidi, pemisahan tersebut perlu dikaji kembali dalam konteks pendidikan tinggi Islam. Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan pemikirannya mengenai integrasi ilmu pengetahuan. Ia menilai ilmu pengetahuan seharusnya tidak ditempatkan dalam kotak-kotak yang saling terpisah. Sebaliknya, berbagai disiplin ilmu dapat dikembangkan melalui dialog dan keterhubungan antarkeilmuan.

Pandangan tersebut kemudian dituangkan Prof. Su’aidi dalam buku Tranintegrasi Ilmu Pengetahuan. Buku tersebut menawarkan pemikiran mengenai upaya menuju peradaban baru setelah era postmodernisme. Selain itu, buku tersebut menjadi refleksi atas hubungan ilmu, agama, dan perkembangan peradaban manusia.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Su’aidi juga menyerahkan buku tentang orientalisme kepada UIN STS Jambi. Buku Orientalisme Sebelum Edward Said diserahkan kepada Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama. Sementara itu, buku Tranintegrasi Ilmu Pengetahuan diserahkan kepada Rektor dan Ketua Senat UIN STS Jambi. Prof. Su’aidi menyampaikan bahwa buku tersebut masih relatif baru bagi pembaca di lingkungan kampus. Menurutnya, baru empat orang yang telah membaca buku tersebut secara utuh. Mereka ialah Ketua Senat, Prof. Mukhtar, Rektor UIN STS Jambi Prof. Kasful Anwar, dan pihak percetakan. “Tentu saja saya juga sudah membacanya,” ujar Prof. Su’aidi dengan nada ringan.

Penyerahan buku tersebut menjadi lebih dari sekadar pemberian karya akademik. Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari dialog intelektual di lingkungan UIN STS Jambi. Dengan demikian, integrasi ilmu tidak berhenti pada konsep akademik semata. Gagasan tersebut dapat diterjemahkan melalui pengembangan program pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Pada akhirnya, Prof. Su’aidi berharap gagasan dalam bukunya dapat menjadi bahan diskusi akademik. Diskusi tersebut penting untuk membangun tradisi keilmuan Islam yang lebih terbuka dan kontekstual. Selain itu, pemikiran tersebut dapat memperkuat identitas UIN STS Jambi sebagai perguruan tinggi berbasis integrasi keilmuan.

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved.